Tokenisasi: Mitos atau Fakta?

January 07, 2021

Di masa sekarang ini, transaksi dapat dengan mudah dilakukan dalam ponsel Anda. Mulai dari membeli pakaian hingga es kopi susu dapat dilakukan hanya dengan satu sentuhan. Namun berbeda halnya dengan melakukan transaksi seperti membeli rumah atau membeli kendaraan yang membutuhkan beragam dokumen untuk melengkapi keperluan transaksi. Dengan berbagai tahapan dan kelengkapan dokumentasi yang memakan waktu terkadang membuat sakit kepala. 

Tetapi Anda tidak perlu pusing lagi, hadirnya tokenisasi dapat meningkatkan efisiensi Anda dalam melakukan transaksi. Hal ini tentu saja sangat memungkinkan untuk diaplikasikan pada berbagai transaksi yang biasanya membutuhkan banyak dokumen.

Apa Itu Tokenisasi?

Tokenisasi merupakan proses konversi suatu aset seperti kumpulan dokumen, nomor kartu, dan lain sebagainya menjadi sebuah token atau rangkaian unik yang dapat disimpan dalam sistem blockchain. Secara singkat, tokenisasi adalah upaya mengubah sebuah value menjadi aset digital.

Tokenisasi juga dapat dianggap sebagai representasi aset digital. Anda mungkin merasa bahwa sudah ada banyak jenis aset keuangan dalam bentuk digital, seperti saat Anda bisa melihat sisa saldo kas Anda di akhir bulan sebelum Anda melakukan transaksi pembelanjaan online

Tetapi bayangkan jika suatu saat Anda ingin menjadi pemilik sebuah karya seni ternama, katakanlah Mona Lisa, misalnya. Tetapi Anda tidak memiliki dana yang cukup untuk membelinya. Tokenisasi tentu dapat memudahkan hal tersebut karena menawarkan kepemilikan pecahan aset. Hadirnya tokenisasi mampu menghilangkan hambatan geografis dan membuka perbatasan untuk memperdagangkan aset agar dapat bergerak dengan bebas dan instan di seluruh platform digital.

contoh tokenisasi

Keuntungan dan Kekurangan Tokenisasi

Nyatanya, selalu ada keuntungan dan kekurangan pada setiap penemuan teknologi terbaru. Tidak ada teknologi tanpa kekurangan, dan tokenisasi tidak terkecuali pada aturan ini. 

Keuntungan dari tokenisasi

  • Mampu meningkatkan likuiditas aset melalui aliran aset yang lebih efektif dan memungkinkan pengembangan platform perdagangan sekunder.
  • Transaksi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan lebih murah karena transaksi diselesaikan dengan smart contract. Smart contract adalah perjanjian transaksi antara penjual dan pembeli yang berbentuk kode.
  • Transparansi yang lebih tinggi, karena tokenisasi memungkinkan Anda mengakses informasi pembeli dan penjual (yang sebelumnya memiliki token).
  • Aksesibilitas yang lebih baik, karena tokenisasi membawa manfaat dari akses menuju pasar yang lebih luas.

Kekurangan tokenisasi

  • Adanya batasan yurisdiksi untuk platform berbasis blockchain, yang terdesentralisasi.
  • Risiko diambil alih oleh teknologi baru yang dapat menguji nilai intrinsik token.

Adaptasi Institusi

Hadirnya teknologi token ini seakan menjadi pedang bermata dua bagi institusi. Karena dengan mengadopsi token berarti membuka pintu peluang dan harus siap menanggung berbagai risiko yang menyertainya. Tetapi jika tidak beradaptasi dengan kemajuan ini, adanya risiko tertinggal. 

Sebagaimana dinyatakan dalam perilaku ekonomi, konsumen akan selalu mencari cara untuk memperoleh hasil yang lebih tinggi dengan prinsip awal terendah. Munculnya adaptasi massal menunjukkan bahwa institusi yang terlibat dengan teknologi dapat merencanakan dan beradaptasi dengan teknologi terkini, terutama dalam kasus tokenisasi. Namun, segala sesuatunya tentu tidak semudah itu bagi lembaga keuangan. Institusi perlu mempertimbangkan dengan cermat poin-poin berikut sebelum berpartisipasi dalam ekonomi token.

  • Perbedaan yurisdiksi yang memiliki kerangka legislatif dan peraturan yang berbeda, dimana lembaga keuangan harus memastikan bahwa token akan tetap patuh di berbagai yurisdiksi, tidak hanya penerbit.
  • KYC (Know-Your-Customer) untuk lembaga keuangan harus menerapkan langkah-langkah operasional baru melalui platform digital.
  • Keamanan tentu perlu menjadi perhatian karena institusi harus menemukan cara untuk melindungi seluruh rantai nilai pada platform blockchain.
  • Model bisnis dan kolaborasi adalah elemen yang harus dipertimbangkan oleh institusi.

Simak: Apa Itu Proses KYC (Know-Your-Customer)?

Token Mata Uang

Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan C8 Plus (C8P) adalah contoh koin yang terdapat pada ledger independen mereka sendiri. BTC beroperasi pada blockchain Bitcoin, ETH beroperasi pada blockchain Ethereum, dan C8P beroperasi pada ERC-20. ERC-20 adalah salah satu token Ethereum paling signifikan yang bertindak sebagai standar teknis dan diterapkan pada semua kontrak pintar di blockchain Ethereum sebagai implementasi token. ERC-20 seringkali digunakan untuk membuat stablecoin.

Seperti yang sudah diulas pada episode 1 Current Waves, talk show yang diadakan oleh Zipmex mengenai tokenisasi sebagai penghubung CeFi dan DeFi. Berdasarkan penjelasan Teerachart Kortrakul, Chief Executive Officer dan Co-Founder dari Carboneum, bahwa bukan DeFi yang menjadi inti dari investasi, tetapi fakta bahwa orang hanya ingin menginvestasikan uang untuk sesuatu yang tumbuh. Eksposur risiko dengan koin stabil dikaitkan dengan fluktuasi harga dalam pertukaran aset yang didukungnya. Pada dasarnya jika Anda memegang token C8P, Anda akan dihadapkan pada pasar DeFi dan akan menerima pengembalian dari pasar DeFi. 

Tokenisasi Sebagai Bagian Dari Masa Depan

Aset tokenisasi mampu menawarkan peluang yang menjanjikan untuk pasar keuangan. Namun, proses ini masih dalam tahap awal, dan adopsi massal akan memakan waktu. Tujuan tokenisasi di masa yang akan datang adalah dapat mengoperasikan secara efisien guna menetapkan dasar untuk adaptasi secara massal. Karena tokenisasi dapat meningkatkan efektivitas perusahaan untuk mengevaluasi kelayakan dampak tokenisasi pada organisasi mereka.