Sejarah Cryptocurrency: Lika-liku Aset Kripto

Posted on January 22, 2021 in Articles, Kriptopedia
View all Articles

Kurang lebih satu dekade lalu, tahun 2008 silam, dunia dihantam krisis global. Bermula di Amerika dan menjalar hingga ke berbagai negara di belahan dunia. Krisis finansial itu disebut-sebut ekonom sebagai krisis terbesar selama 80 tahun dan dijuluki sebagai ‘Mother of All Crisis’. 

Kebangkrutan membayangi banyak perusahaan. Bursa saham runtuh. Lehman Brothers, perusahaan investasi keuangan terbesar keempat di Amerika Serikat pun tak luput. Setelah beroperasi selama lebih dari seabad, Lehman Brothers mesti menyerah pada keadaan dan dinyatakan bangkrut. 

Rumah-rumah disita, para pekerja dirumahkan. Laman BBC melaporkan selama dua tahun, sejak Januari 2008 hingga Februari 2010, sebanyak 7,3 juta pekerjaan hilang. Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran di Amerika Serikat meningkat hingga ke level 10 persen. 

Di tengah kondisi gonjang-ganjing dunia keuangan Amerika Serikat, sebuah surel berantai dikirimkan. Penerimanya adalah mailing list di komunitas pencinta kriptografi digital. Email itu dikirimkan oleh seorang tak dikenal yang menamakan dirinya sebagai Satoshi Nakamoto. 

Nathaniel Popper dalam bukunya yang berjudul “Digital Gold: Bitcoin and The Inside Story of Misfits and Millionaires Trying to Reinvent Money” menuliskan bahwa email itu tak sepenuhnya ditanggapi. Kebanyakan pengguna milis tidak memberi respon. Hingga akhirnya salah seorang di antaranya, Hal Finney menjawab surel Nakamoto. 

Di dalam surelnya, Nakamoto mengatakan bahwa ia tengah mengerjakan sebuah proyek berupa sistem uang elektronik baru dengan konsep peer-to-peer yang terdesentralisasi. Finney di tengah rasa skeptis meminta Nakamoto untuk mengirimkan contoh awal dari sistem yang ia sebutkan dalam email. Tak perlu menunggu lama, pada 18 Agustus 2018, Nakamoto membeli situs bitcoin.org. 

Ia mengirimkan link situs tersebut dengan software pendukung dan 10 koin pertama pada Finney untuk diuji coba. Finney yang tertarik pada proyek tersebut memutuskan untuk bekerja sama. Finney mengidentifikasi bugs yang ada di dalam sistem dan kemudian memandu Nakamoto untuk memperbaiki dan menyempurnakannya. 

Masih di tahun dan bulan yang sama, tepatnya pada 31 Oktober 2008, Nakamoto mengunggah sebuah white paper yang berjudul “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System”. White paper itu berisi ide, visi, dan misi jaringan blockchain yang bernama Bitcoin. Nakamoto menuliskan bahwa sudah saatnya ada sistem pembayaran yang berbasis bukti kriptografi bukan kepercayaan. 

Bitcoin sebagai mata uang elektronik yang berbasis jaringan blockchain memberikan ruang bagi pembayaran digital yang bebas biaya tambahan. Jaringan ini akan memungkinkan dua pihak melakukan transaksi secara langsung tanpa pihak ketiga. Transaksi akan ditangani secara langsung oleh sistem komputasi dan dikonfirmasi menggunakan mekanisme escrow

Mekanisme escrow adalah mekanisme yang baru akan menyatakan sebuah transaksi berhasil ketika uang yang dikirimkan oleh pembeli telah diterima penjual. Mekanisme tersebut praktis akan melindungi penjual dari pembeli dan sebaliknya.

Finney dan Nakamoto bekerja sama mewujudkan ide itu. Kesamaan pemikiran untuk menciptakan mata uang yang berdasarkan proof of work membuat Finney dan Nakamoto menjalin kolaborasi yang mantap. Hingga pada 3 Januari 2009, blok pertama ditambang. 

Jaringan yang dikenal sebagai Blok 0 itu menghasilkan 50 Bitcoin. Nakamoto menamainya sebagai Blok Genesis. Di dalam blok pertama itu terdapat pernyataan “The Times 03/Jan/2009 Chancellor on Brink of Second Bailout for Banks”. Kalimat ini merupakan salah satu judul utama di koran The Times yang merujuk pada langkah yang diambil Menteri Keuangan untuk mengatasi krisis keuangan di AS. 

Hanya berselang beberapa hari, perangkat lunak Bitcoin dirilis di milis kriptografi. Masa itu, software Bitcoin 0.1 hanya dapat digunakan oleh Windows. Setelah software meluncur, penambangan di Blok 1 pun dimulai. Lalu seiring berjalannya waktu, Nakamoto meluncurkan software Bitcoin 0.2 pada Desember 2009 yang dapat digunakan untuk perangkat Linux. 

Kehadiran software itu bertepatan pula dengan mulai tersedianya multi core processors untuk mining di pasaran. Sejak saat itu, komunitas mining dan blockchain mulai tumbuh subur dan menjamur. 

Bitcoin Bukan Barang Baru

Cryptocurrency

Meski baru muncul pada 2009 silam, Bitcoin rupanya tak bisa dikatakan sebagai barang baru. Jauh sebelum Bitcoin menampakkan diri, ide mengenai cryptocurrency sebenarnya sudah mulai muncul. Hanya saja belum ada yang benar-benar mampu menapak dan sukses dengan gemilang seperti Bitcoin. 

Dalam sejarah cryptocurrency, Digicash merupakan cryptocurrency pertama di dunia yang diciptakan oleh David Chaum, seorang kriptografer asal Amerika. Ia berpikir untuk melepaskan diri dari jejak keuangan milik bank atau pemerintah dan menjaga transaksi pribadinya. Chaum berhasil menemukan mata uang digital dengan algoritma kompleks yang memastikan transaksi tidak dapat diubah dan tidak dikendalikan, sehingga memungkinkan transaksi peer-to-peer

Chaum merekrut beberapa penggemar cryptocurrency dan mulai mendirikan perusahaannya di sebuah rumah di Belanda pada 1980. Perusahaan nirlaba tersebut perlahan menuai pro dan kontra. Sistemnya yang belum terdesentralisasi membuat DigiCash menerapkan bank sentral tipe baru. 

Aktivitas ini rupanya membuat geram bank sentral resmi. Bank sentral resmi melawan DigiCash dan memberi ultimatum. Digicash setuju dan mulai serius membatasi potensi pasarnya. Sempat terpikir untuk menjalin kerja sama antara DigiCash dan Microsoft untuk program Windows, namun kedua perusahaan ini tidak mencapai kesepakatan. DigiCash bangkrut pada akhir 1990 dan hilang dari permukaan. 

Pada 1998, seorang insinyur perangkat ulung bernama Wei Dai menerbitkan white paper tentang b-money. B-money adalah sebuah mata uang virtual yang mencakup komponen dasar cryptocurrency modern. Namun, sejak awal diciptakan hingga masa proyeknya usai, b-money tak pernah diluncurkan. 

Tak lama setelah Wei Dai, muncul pula rekan Chaum bernama Nick Szabo. Ia merilis dan mengembangkan cryptocurrency yang diberi nama Bit Gold. Jaringan yang digunakan pun sudah menganut sistem blockchain. Sayangnya, Bit Gold tak berhasil menuai popularitas dan menguap begitu saja. 

Dilansir Money Crashers, masih ada banyak lagi mata uang digital lainnya yang muncul setelah DigiCash. Bahkan ada yang menggunakan basis emas dan diberi nama e-gold. e-gold sebenarnya berhasil meraup pasar. Hanya saja, tingkat keamanannya yang rendah membuat e-gold rentan. 

Mata uang virtual ini menjadi sasaran empuk dan paling populer bagi hackers dan scammers. e-gold rupanya juga sering dijadikan sebagai tempat pencucian uang dan penipuan berskema Ponzi dalam skala kecil. Pada akhir 2000an, e-gold mesti menghadapi tekanan hukum dan menutup operasinya di tahun 2015. 

Lantas, apa yang membuat Bitcoin lebih beruntung ketimbang para pendahulunya? 

Menurut Danny Taniwan, Bitcoin Maximalist dan Co-Founder Cryptowatch Community, DigiCash tidak berhasil karena modusnya bukan desentralisasi. DigiCash berhasil menerapkan dasar-dasar kriptografi dalam mata uangnya seperti anonimitas, private key, public key, dan cara kerja blockchain, namun masih terpusat pada satu perusahaan.

Selain itu, internet di masa 1980 belum benar-benar menjadi kebutuhan. DigiCash juga sempat mencari bank sebagai rekanan dan sulit bagi perbankan untuk menerima aktivitas keuangan dengan sistem itu. 

“Mungkin it’s too early. Pada masa itu, dia buat seperti yang benar-benar privacy dan gak bisa dilacak. Mungkin untuk perbankan agak susah untuk menerimanya, dan mungkin awal-awal tahun 1988-1989 juga internet baru ada. Mungkin orang enggak begitu percaya sama duit di internet, ya, dan enggak banyak merchant yang mau kerjasama. Ya, akhirnya tutup,” tuturnya, Kamis (21/1). 

Sementara itu, menurut Rizal, co-founder Indonesia Cryptocurrency Discussion Group (ICD), salah satu komunitas kripto terbesar di Indonesia, DigiCash belum dapat disebut sebagai cryptocurrency. Sebab menurutnya, ada dua kondisi yang harus dipenuhi sebuah koin untuk dapat dinyatakan sebagai cryptocurrency

Pertama yaitu harus ada nilai pertukaran yang mesti dipenuhi. Harus ada value yang bisa diperdagangkan. Kedua, harus memenuhi syarat sebagai mata uang yang terdesentralisasi, bukan sentralisasi. Oleh karena itu, aset digital pertama yang berhasil menjadi cryptocurrency hanya Bitcoin. 

“Desentralisasi artinya tidak ada server yang terpusat. Dalam decentralized itu semua miners jadi server tersendiri. Data-datanya itu enggak tersimpan hanya di satu server. Servernya itu di setiap mining, yang menciptakan bloknya, ya, miner-miner itu sendiri,” ujarnya, Kamis (21/1). 

Cryptocurrency, Bitcoin, dan Blockchain

Pexels

Wikipedia mendefinisikan cryptocurrency sebagai aset digital yang didesain sebagai media pertukaran yang dilakukan dalam sebuah database menggunakan kriptografi untuk menjaga keamanan riwayat transaksi, mengendalikan pencetakan koin, dan melakukan verifikasi terhadap pengiriman dan kepemilikan koin. 

Secara harafiah, cryptocurrency berasal dari kata kripto atau kriptografi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kriptografi adalah teknik mengubah data menjadi berbeda dari aslinya dengan menggunakan algoritme matematika. Sehingga orang-orang yang tidak mengetahui kuncinya tidak akan dapat membongkar data tersebut. 

Masing-masing blok kripto diciptakan menggunakan kode-kode rumit yang dibuat oleh mesin mining. Tiap blok berisi transaksi mengenai penciptaan satu koin dan historisnya. Blok-blok tersebut saling terangkai dan membentuk sebuah blockchain. Hasil mining dari dalam blockchain disebut sebagai koin. Koin-koin itu yang dikenal sebagai cryptocurrency.

Tiap koin memiliki blockchain-nya masing-masing, dan tiap koin bisa saja menciptakan tokennya sendiri. Bitcoin memiliki blockchain-nya sendiri, begitu pula dengan Ethereum, Polkadot, dan cryptocurrency lainnya. 

“Jadi simpelnya, Bitcoin itu blockchain, tapi blockchain belum tentu bitcoin aja. Bahasa simpelnya itu, Bitcoin udah pasti blockchain, tapi blockchain itu enggak cuma Bitcoin aja, bisa Ethereum, bisa Ripple, bisa LTC,” kata Rizal menambahkan.

Sejarah Cryptocurrency di Indonesia 

Kehadiran mata uang kripto di Indonesia diawali oleh Bitcoin. Dalam penuturan Rizal, cryptocurrency masuk ke Indonesia pada awal 2013. Pada masa itu ada tiga exchanger yang memberikan platform bagi para penggunanya untuk jual beli Bitcoin. 

“Dulu sistemnya kayak marketplace. Jadi misalnya aku mau jual Bitcoin 10 ribu, ada yang mau beli, tidak? Ternyata ada yang mau beli,” kisahnya. 

Exchanger bekerja sebagai third party menyediakan sistem OTC (Over the Counter). Nantinya pengguna akan dikenakan PPN sebesar 10 persen dan juga split harga. 

Di luar exchanger, Bitcoin masuk ke Indonesia melalui wisatawan asing yang berkunjung ke Bali. Mereka biasanya membawa Bitcoin untuk ditukarkan menjadi rupiah ke money changer tertentu. Selain itu, ada pula beberapa vila yang memberikan kesempatan bagi tamunya untuk membayar dengan Bitcoin. 

Penetrasi Bitcoin tak sampai di situ saja. Awal kemunculannya, Bitcoin juga masuk melalui komunitas-komunitas. Ada yang berupa voucher, airdrop, dan ada pula yang berupa reward. Seperti yang pernah dilakukan Rizal, kala itu ia disuruh mengerjakan task-task mudah dalam website dan nantinya akan diberi Bitcoin sebagai reward.

“Jadi misalnya kita diminta mengunjungi website, nanti dapat berapa Bitcoin, atau kita menyelesaikan task-task di website lalu dapat Bitcoin juga,” lanjut Rizal. 

Saat itu, Rizal sebenarnya masih belum tahu apa yang harus ia lakukan dengan Bitcoin yang ia dapatkan. Namun, Rizal memutuskan untuk menyimpannya saja. Perlahan tapi pasti, Bitcoin mulai menunjukkan taring. Tahun 2017, Bitcoin booming di Indonesia dan seiring waktu harganya terus meningkat.

Regulasi Cryptocurrency di Indonesia

Coins, paper money and globe on white Statistic form background

Dilansir CNNIndonesia, Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dalam salah satu pidatonya di acara Temu Kader Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Se-Indonesia meminta agar kaum muda dapat bergerak cepat mengikuti perkembangan zaman di masa revolusi industri 4.0. 

“Harus mengerti artificial intelligence, Bitcoin, cryptocurrency, virtual reality, internet of thing, mengerti semuanya,” tuturnya, Sabtu (16/3/2019). 

Untuk mengakomodir hal tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengeluarkan regulasi untuk melegalkan perdagangan aset kripto sebagai bagian dari aset komoditas. Cryptocurrency dinyatakan legal sebagai komoditas di Indonesia pada Februari 2019, berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) melalui Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto (Crypto Asset) di Bursa Berjangka. Keputusan ini tentu menjadi bagian dari perkembangan dan sejarah cryptocurrency di Indonesia.

“Pemerintah melalui regulasi Bappebti juga menjelaskan bahwa Bitcoin dapat diperdagangkan di Indonesia dalam bentuk aset, bukan dalam mata uang. Bisa untuk diperjualbelikan tapi tidak untuk pembayaran,” jelas Rizal. 

Kendati Kementerian Perdagangan telah melegalkan perdagangan aset kripto di Indonesia, tetapi saat ini baru 229 jenis aset kripto yang diakui untuk bisa diperdagangkan. Dilansir Kompas, hal itu disampaikan Bappebti melalui Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Perba) Nomor 7 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

“Dalam regulasi tersebut, Bappebti menetapkan 229 jenis aset kripto yang bisa diperdagangkan di pasar fisik aset kripto,” kata Kepala Bappebti Sidharta Utama dalam keterangan resminya, Senin (11/1/2021). 

Menurut UU No. 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang, alat pembayaran yang sah adalah rupiah. Sehingga seluruh pembayaran di harus menggunakan rupiah. Oleh sebab itu, mata uang fiat di Indonesia masih belum bisa digeser kedudukannya oleh cryptocurrency

Apalagi secara durasi transaksi, Bitcoin memakan waktu yang lebih lama ketimbang menggunakan mata uang biasa. Nilainya juga fluktuatif, sehingga akan menyulitkan transaksi untuk kebutuhan konvensional atau sehari-hari. 

“Secara ekonominya, Bitcoin is not for payment, dan kalaupun mau transaksi lambat juga sekitar 30-60 menit. Jadi enggak mungkin, kan, saya di depan kasir menunggu sampai 30 menit sampai uang masuk ke merchant baru bisa minum kopinya,” jelas Danny.

“Bitcoin itu juga aset yang langka, karena nilainya naik terus. Saya sih enggak mau bayar sesuatu pake Bitcoin. Misal satu kopi sekitar Rp 30 ribu atau Rp 40 ribu. Kalau saya bayar pakai Bitcoin, sayang, karena tahun depan nilainya bisa meningkat hingga 10 kali lipat, dan kopi itu harganya menjadi 10 kali lipat, bukan Rp 30 atau Rp 40 ribu lagi,” tambahnya. 

Kendati tak bisa digunakan sebagai alat tukar di Indonesia, ada banyak negara yang kini melegalkan cryptocurrency sebagai salah satu opsi pembayaran. Di Latvia misalnya, ada maskapai AirBaltic yang memberikan pilihan pembayaran menggunakan Bitcoin. Di Jepang dan Amerika, beberapa gerai sudah memberikan kesempatan melakukan pembayaran dengan mata uang kripto. 

Sementara di Australia, ATM Bitcoin (BTM) bisa kamu temukan di kota-kota besar seperti Sydney dan Adelaide. Bitcoin juga bisa kamu gunakan untuk membeli kendaraan-kendaraan mewah buatan Eropa seperti Ferrari, Bentley, Lamborghini, dan masih banyak lagi. 

Lalu, untuk apa Bitcoin di Indonesia? Menurut Danny, Bitcoin bisa dijadikan sebagai investasi yang low risk namun high gain. Keterbatasan jumlah yang hanya mencapai 21 juta di dunia itu membuat nilai Bitcoin akan terus meningkat seiring dengan pertambahan minat masyarakat. Sistemnya juga transparan dan terdesentralisasi membuat seluruh pengguna dapat mengakses dan mengetahui setiap transaksi yang terjadi dalam blockchain.

“Saya selalu saranin untuk long-term investment, 5-10 tahun, masukin sedikit-sedikit saja. Saya saranin jangan investasi pakai uang untuk kebutuhan. Anggaplah 10 persen dari tabungan kamu dijadikan Bitcoin. Bagi orang lain mungkin Bitcoin ini risky investment, Tapi bagi saya ini bagus banget, low risk high gain,” tutupnya. 

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter