Mitos atau Fakta: Mining Bitcoin Tak Ramah Lingkungan

Posted on January 27, 2021 in Articles, Kriptopedia
View all Articles

Aktivitas mining Bitcoin memang tak bisa dianggap remeh. Dengan melesatnya harga Bitcoin, mining (penambangan) menjadi salah satu alternatif bagi para investor maupun trader untuk memiliki aset kripto terpopuler ini. Dengan mining, penambang bisa mendapatkan Bitcoin tanpa harus membayar.

Untuk mendapatkannya, miner mesti menambah blok baru dalam blockchain. Cara lainnya adalah dengan menyelesaikan verifikasi transaksi dari blok yang baru ditambahkan ke blockchain. Penambang yang berhasil memecahkan teka-teki hashing terlebih dahulu akan mendapat Bitcoin sebagai reward. Apalagi kini harga Bitcoin terus melesat.

Kendati bersifat volatil dan kerap naik turun, coinmarketcap mencatat bahwa aset kripto terpopuler ini masih berada di angka 31 ribu dolar AS. Apabila dirupiahkan, maka angka tersebut mencapai jumlah yang fantastis, yakni Rp 447 juta per kepingnya.

Sayangnya, beberapa klaim menyebutkan bahwa mining Bitcoin tak ramah lingkungan. Di tengah isu pemanasan global dan perubahan iklim, tentu saja klaim ini menjadi perhatian banyak pihak.

Baca juga: Sejarah Cryptocurrency: Lika-liku Aset Kripto

Dilansir BBC, sebuah studi yang dilakukan Universitas Cambridge pada 2019 lalu menemukan bahwa jaringan Bitcoin di dunia menghabiskan lebih dari 7 GW (Gigawatt) atau sekitar 64 TWh dalam setahun. Jumlah tersebut setara dengan 0,21 persen pasokan listrik dunia. Setara pula dengan jumlah listrik yang dihasilkan oleh tujuh PLTN yang berada di Dungeness, Inggris.

Tak sampai di situ saja, update terkini dalam laman Cambridge Bitcoin Electricity Consumption Index (CBECI) menunjukkan bahwa penggunaan listrik untuk jaringan Bitcoin mengalami peningkatan signifikan. Data tersebut memuat bahwa Bitcoin menghabiskan daya listrik sebanyak 109,52 TWh per tahun. Jumlah ini bahkan lebih besar ketimbang konsumsi listrik di Belanda yang hanya 108,80 TWh per tahunnya.

Cambridge Bitcoin Electricity Consumption Index (CBECI) adalah sebuah tool daring yang digunakan untuk menghitung besar energi yang digunakan jaringan Bitcoin secara real-time.

Selain studi yang dilakukan Universitas Cambridge, sebuah platform analisis ekonomi dan digital bertajuk Digiconomist juga melakukan studi terkait mining Bitcoin. Dalam estimasinya, Digiconomist menyatakan bahwa per 30 September 2019, jaringan Bitcoin menghabiskan daya listrik sebanyak 87,1 TWh selama setahun. Jumlah itu sama dengan konsumsi listrik di Belgia dalam setahun.

Pexels/Artem Podrez

Mengapa Mining Bitcoin Butuh Daya yang Besar?

Untuk menambang Bitcoin, miner membutuhkan komputer khusus yang telah dilengkapi dengan Application Specific Integrated Circuits (ASICs) atau Graphics Processing Units (GPUs/Graphic Card) dan rig penambangan.

Komponen-komponen tersebut yang akan membantu penambang untuk menyelesaikan persamaan-persamaan sulit yang dihadirkan prosesor. Semakin sulit persamaan yang mesti diselesaikan, semakin banyak Bitcoin yang dapat dihasilkan.

Aturan tersebut dibuat untuk menjaga pasokan Bitcoin agar tetap terjaga. Sehingga nilainya tetap stabil dan tidak menurun drastis dalam waktu singkat. Terlebih jumlah Bitcoin juga terbatas, yaitu hanya 21 juta saja dan tidak akan dicetak ulang.

Sistem operasi inilah yang membutuhkan daya listrik dalam jumlah yang besar. Setidaknya, miner akan membutuhkan listrik sebesar 1000 W dan koneksi internet yang kuat. Ditambah lagi, selama mining dilakukan, sistem harus tetap menyala 24 jam dalam seminggu.

Baca juga: Seberapa sulit menambang Bitcoin?

Sumber Daya Terbarukan untuk Mining Bitcoin

Mining Bitcoin
Pexels/Jacky

Perusahaan pelopor investasi aset digital CoinShares melaporkan bahwa mining Bitcoin merupakan sektor global yang ramah lingkungan. CoinShares menemukan bahwa sebagian besar mining Bitcoin dilakukan dengan menggunakan energi terbarukan.

Mayoritas penambangan Bitcoin dilakukan di daerah-daerah yang memiliki energi hidroelektrik murah. Beberapa di antaranya adalah Skandinavia, Kanada Timur, China Barat Daya, dan Pacific Northwest di Amerika.

Temuan itu diperkuat juga oleh studi yang diberitakan Cointelegraph. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa pada tahun 2017, mining Bitcoin memang memakan daya listrik yang sangat besar. Konsumsi daya kolektif Jaringan Bitcoin bahkan dapat melampaui konsumsi daya dari beberapa negara. Sehingga jejak karbon yang dihasilkan juga jauh lebih banyak.

Namun menjelang akhir 2019, beberapa penelitian mendapati bahwa jaringan Bitcoin menggunakan energi yang lebih sedikit, meskipun tingkat hash-nya meningkat. Data tersebut juga menemukan bahwa 75 persen penambangan Bitcoin didukung oleh sumber energi terbarukan. Sumber energinya beragam, ada yang menggunakan air, angin, geothermal, hingga tenaga surya.

Islandia misalnya, penambangan Bitcoin dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya geothermal. Di Texas, Amerika Seirkat, sebuah startup mining Bitcoin menggunakan tenaga angin untuk menambang. Perusahaan tersebut bahkan merancang sistem penyimpanan listrik dari tenaga angin, sehingga listrik tetap akan menyala walau tak ada angin.

Perusahaan exchange asal Swedia BTCX menambang Bitcoin dengan menggunakan tenaga surya sejak 2018. Sementara di Kanada dan China, penambang BTC sudah menggunakan tenaga air atau hidroelektro.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Danny Taniwan, Bitcoin Maximalist dan Co-Founder Cryptowatch Community mengatakan bahwa miner-miner di dunia tengah berusaha mencari alternatif sumber daya yang lebih sustainable. Tidak terkecuali di Indonesia.

Miner BTC di Indonesia juga sedang menjajaki sumber energi terbarukan untuk melakukan penambangan. Salah satu yang sedang diajak bekerja sama adalah PLTA Sumatera Barat di Maninjau. Dari hasil kunjungannya, ia mendapati bahwa PLTA itu menghasilkan sumber daya listrik yang lebih besar ketimbang kebutuhan harian masyarakat sekitar. Sehingga akan terbuang sia-sia apabila tidak dimanfaatkan.

“Jadi access power itu habis atau tidak habis tetap menghasilkan 30 MW. Kalau sisa tenaga itu dipakai untuk Bitcoin, jadinya tidak ada listrik yang terbuang. Daripada terbuang (lebih baik) dimanfaatkanlah,” tuturnya, Kamis (21/1).

Kesimpulan

Ekonom asal Jerman, Philipp Sandner, mengatakan bahwa faktanya jaringan Bitcoin memang mengkonsumsi daya listrik dalam jumlah besar. Namun, alih-alih menggunakan batu bara atau minyal bumi yang berasal dari fosil, penambang bisa menggunakan sumber energi terbarukan. Sumber energi terbarukan menyediakan akses bagi jaringan Bitcoin untuk beroperasi dengan tenaga listrik yang berbiaya rendah.

Di luar itu, sumber energi terbarukan juga terbukti memiliki jejak karbon yang lebih rendah. Sehingga dapat mengurangi potensi perubahan iklim dan pemanasan global. Dari segi operasional, biaya yang dibutuhkan untuk mining juga menjadi lebih sedikit.

Meski begitu, penurunan biaya tersebut tidak akan berpengaruh langsung terhadap harga Bitcoin. Sebab, harga Bitcoin bukan hanya tergantung pada sumber daya listrik saja. Melainkan permintaan, jumlah yang tersedia, dan makin tingginya tingkat kesulitan mining Bitcoin.

Baca juga: Alat-alat untuk Menambang Bitcoin

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter