Mengenal Ethereum, Pelopor Smart Contract di Jaringan Blockchain

Posted on February 12, 2021 in Articles, Berita Kripto, Investasi, Kriptopedia
View all Articles

Layar monitor gadis itu dipenuhi warna. Beragam warna cerah dengan dominasi magenta berpadu di monitornya. Perempuan itu nampak sibuk menggulir layar. Pikirannya melayang, mengagumi beragam gambar kucing yang ada di layar sembari menimbang-nimbang, karakter mana yang akan ia beli. 

Kucing yang ia cari bukan binatang peliharaan berjenis persia atau anggora. Melainkan kucing-kucing digital yang bisa menghasilkan uang. Ya, uang. 

Usut punya usut, rupanya kucing-kucing tersebut berasal dari sebuah game bernama CryptoKitties. CryptoKitties merupakan sebuah permainan yang menggunakan smart-contract Ethereum. Game ini diluncurkan pada Oktober 2017 dan menjadi use case paling terkenal pertama bagi blockchain Ethereum. 

Di dalamnya, pengguna bisa membeli kucing-kucing digital. Kucing tersebut dapat dikawinkan dan menghasilkan ras baru. Pengguna bisa mengoleksi kucing-kucing digital tersebut atau menjualnya untuk menghasilkan koin Ethereum (ETH). Semakin langka atribut yang dihasilkan dari ras baru, maka semakin mahal pula harganya. 

Ethereum

Meski tampaknya hanya sekadar permainan, CryptoKitties telah memiliki 1,5 juta pengguna yang telah melakukan transaksi dengan total senilai 40 juta dolar AS. Apabila dirupiahkan, jumlah tersebut setara dengan Rp 559,4 miliar. Angka yang fantastis, kan. 

Seluruh transaksi baik jual beli kucing maupun aksesoris dalam CryptoKitties dilakukan menggunakan ETH. Breeding atau mengawinkan kucing untuk mendapatkan ras baru juga akan dikenakan biaya. Biaya tersebut juga harus dibayarkan oleh pengguna dengan ETH. 

CryptoKitties adalah salah satu cara developer Ethereum menggaet pengguna untuk memanfaatkan koinnya. Di luar dari CryptoKitties, masih ada beragam token lainnya yang dibangun menggunakan program smart contract milik ETH. 

Tak heran, Ethereum kini dianggap sebagai altcoin paling sukses dengan market cap kedua terbesar setelah Bitcoin. Bahkan pada Selasa lalu (9/2), Business Insiders mengabarkan bahwa ETH mencapai all time high. Harga ETH melesat hingga 1.800 dolar AS per koinnya menyusul peluncuran CME Futures. 

Namun, apa sebenarnya Ethereum dan mengapa aset kripto ini dianggap lebih dari sekadar cryptocurrency

Apa Itu Ethereum?

Pixabay/World Spectrum

Ethereum merupakan layanan open source yang menggunakan teknologi blockchain. Ethereum didesain dengan bahasa pemrogramannya khusus memungkinkan developer untuk membangun dan menjalankan aplikasi terdistribusi. Hal ini memungkinkan Ethereum memfasilitasi transaksi jual beli sekaligus ruang bagi pengembang token tanpa campur tangan pihak ketiga.

Dilansir Forbes, Ethereum menyediakan dua akun bagi penggunanya. Akun pertama adalah akun yang dapat dimiliki secara eksternal dan dikendalikan oleh pengguna. Sementara akun kedua adalah contract account yang memungkinkan pengembang untuk membangun beragam jenis aplikasi yang terdesentralisasi.

Dalam platform Ethereum, pembuatan aplikasi yang dilakukan developer tidak dikelola atau dikendalikan oleh satu entitas. Sebaliknya, mereka diatur oleh kode dan program khusus yang dikenal sebagai smart contract. Smart contract adalah sebuah agreement yang telah diprogram dalam sebuah sistem. Program ini akan menjalankan aplikasi secara otomatis begitu syarat-syarat dalam jaringan telah terpenuhi. 

Vitalik Buterin, Pemuda Cerdas di Balik Ethereum

Ethereum
Source: Techcrunch

Ethereum pertama kali muncul pada tahun 2013. Layanan ini diajukan oleh seorang programmer asal Rusia, Vitalik Buterin. Ia mengajukan proposal atau whitepaper yang didalamnya terdapat bahasa skrip Ethereum. 

Ethereum diciptakan dengan tujuan untuk menutupi beberapa kekurangan yang ia rasa terdapat pada sistem Bitcoin. Sayangnya proposal tersebut ditolak oleh komunitas-komunitas pegiat kripto di masa itu. 

Setelah berulang kali mengalami penolakan, pria kelahiran 31 Januari 1994 ini berencana mengembangkan Ethereum secara mandiri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menghadiri acara North American Bitcoin Conference tahun 2014 di Miami, Amerika Serikat. 

Usahanya tersebut berbuah manis. Proyek Vitalik Buterin tersebut menerima antusiasme tinggi. Ia menemukan bantuan dana tiga orang pebisnis yang menjadi koleganya, yakni Gavin Wood, Charles Hoskinson, dan Anthony Di iorio. Tak lama setelah itu, Vitalik mendapatkan dana dari Thiel Fellowship sebesar 100 ribu dolar AS atau setara dengan Rp 1,4 triliun.

Setelah menjalani tahapan pengembangan teknologi selama 1 tahun lebih, barulah pada Juli 2015 Ethereum diperkenalkan kepada publik.

Baca juga: Sejarah Cryptocurrency: Lika-liku Aset Kripto

Ethereum dan Bagian Pembentuknya

Ethereum
Pixabay/World Spectrum

Ethereum terdiri dari beberapa bagian penting, yaitu blockchain, native token (ETH), dan Proof-of-Work.

Blockchain

Struktur blockchain Ethereum sebenarnya mirip dengan Bitcoin. Di dalamnya terdapat catatan bersama dari seluruh smart contract dan riwayat transaksi pengguna. Sifatnya yang terdesentralisasi membuat salinan lengkap blockchain Ethereum disimpan oleh ratusan sukarelawan dari seluruh dunia. Mereka melakukan validasi transaksi dan mencatat semua transaksi yang dilakukan pada blockchain

Kegiatan tersebut disebut sebagai node di jaringan Ethereum. Setiap kali smart contract Ethereum digunakan, jaringan yang terdiri dari ribuan komputer di dunia membantu prosesnya untuk memastikan pengguna mengikuti aturan yang berlaku pada blockchain.

Selain berfungsi untuk menyimpan data ini, setiap node Ethereum mengikuti aturan yang sama untuk menerima transaksi dan menjalankan smart contract.

Berikut ini merupakan hal-hal yang dimiliki oleh setiap node:

  • Akun pengguna.
  • Kode smart contract.
  • Status smart contract.

Native Token (ETH)

Ether atau ETH merupakan native token milik Ethereum. Sama seperti aset kripto lainnya, ETH dapat digunakan sebagai investasi maupun trading. ETH diciptakan dengan visi untuk menjadi lebih dari sekadar metode pembayaran. 

Software developer dapat membangun aplikasi terdesentralisasi pada Ethereum dengan memanfaatkan fungsi DeFi (Decentralized Finance). Dengan DeFi, software developer bisa membuat token dengan beragam layanan seperti lending, staking, dan yield farming.

Pada aplikasi berbasis Ethereum, ETH bertindak sebagai bahan bakar utama. Setiap aktivitas pada blockchain membutuhkan sejumlah ETH untuk menjalankannya, yang dikenal sebagai Ethereum gas fee.

Ethereum gas fee mengacu pada biaya atau harga yang diperlukan untuk melakukan transaksi atau mengeksekusi kontrak melalui platform blockchain Ethereum.

Pada blockchain Ethereum, ETH dapat digunakan untuk hal-hal berikut:

  • Sebagai metode pembayaran, ETH dapat digunakan sebagai metode pembayaran. Pengguna dapat mengirim ETH ke pengguna lain dan pembayaran tidak memerlukan pihak ketiga untuk memberikan persetujuan atau menjalankan prosesnya.
  • Menggerakkan decentralized application, ETH diperlukan untuk menggunakan fungsi decentralized application (DApps) yang dibangun diatas Ethereum. Mulai dari staking token ERC-20 untuk yield farming hingga menyelesaikan fungsi seperti pemungutan suara governance.
  • Biaya transaksi, setiap tindakan yang dilakukan dalam blockchain Ethereum, mulai dari pembayaran hingga menggunakan DApps tentunya membutuhkan biaya. ETH menjadi alat transaksi untuk membayar biaya-biaya tersebut. 

Tidak seperti Bitcoin yang memiliki batas maksimum 21 juta BTC, ETH tidak memiliki batas pasokan maksimum yang ditetapkan. 

Menurut data Messari, perusahaan riset yang meneliti crypto market, blockchain Ethereum mencetak 5 ETH setiap 13 detik. Hingga saat ini ada lebih dari 113 juta ETH yang tersebar di seluruh dunia. Namun di luar itu, aturan untuk ETH sering berubah karena proposal perbaikan yang disepakati oleh komunitas pengembang Ethereum. 

Proof-of-Work

Setiap node di jaringan menyimpan salinan transaksi dan riwayat smart-contract jaringan. Setiap kali pengguna melakukan beberapa tindakan, semua node di jaringan harus mencapai kesepakatan bahwa perubahan ini telah terjadi.

Algoritma Proof-of-Work, yang membuat node yang berjauhan ini tetap sinkron. Proof-of-Work merupakan cara untuk mengamankan transaksi yang terdesentralisasi di blockchain. Algoritma ini menghindarkan Ethereum dari aktivitas pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang mau melakukan kecurangan dalam blockchain.

Baca juga: Mengapa Market Cap Penting Bagi Cryptocurrency?

Keunggulan Ethereum

Pexels/Moose Photos

Bersifat Desentralisasi

Ethereum adalah aset kripto paling terdesentralisasi kedua di dunia setelah Bitcoin. Meskipun pemiliknya dikenali dan operasional ETH diawasi organisasi tertentu, seperti Vitalik Buterin dan ConsenSys, Ethereum tidak memiliki otoritas terpusat dengan kendali tertinggi.

Dengan menggunakan sistem desentralisasi, transaksi dalam blockchain Ethereum tidak mungkin gagal proses. Karena, semua aplikasi akan terus menerus online. Selain itu, sifat terdesentralisasi dan keamanan kriptografi membuat jaringan Ethereum terlindung dari kemungkinan serangan peretasan dan penipuan.

Berbeda dengan platform smart contract lainnya, jaringan Ethereum dikontrol oleh organisasi terpusat. Sehingga ada kemungkinan transaksi dapat dibatalkan atau akun dibekukan.

Dikembangkan Dengan Open Source

Ethereum dikembangkan dengan sistem open source, yang dapat memudahkan terjadinya peningkatan sistem ketika diperlukan. Sistem open source tentunya menguntungkan pengguna platform karena dapat memberikan lebih banyak stabilitas dan transparansi. Selain itu, kesalahan atau kegagalan dalam transaksi dapat diselesaikan dengan hanya memasukkan source code.

Keamanan yang Dijamin oleh Smart Contract

Platform Ethereum memiliki smart contract, yang dijalankan dengan aman karena tidak memerlukan intervensi pihak ketiga. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, smart contract bekerja secara otomatis mengeksekusi transaksi ketika kondisi tertentu telah terpenuhi. 

Sudah banyak aplikasi yang memanfaatkan teknologi smart contract. Aplikasi Ethereum populer seperti MakerDAO dan Compound juga menggunakan smart contract untuk memberikan pinjaman dana bagi pengguna dan bunga dalam layanan keuangan mereka.

Berikut ini adalah berbagai peran atau fungsi lainnya yang dimiliki oleh smart contract:

  • Sebagai akun multisignature, dana hanya dapat digunakan jika telah disetujui oleh  sejumlah orang..
  • Mengelola perjanjian keuangan antar pengguna. 
  • Sebagai pihak ketiga, mirip dengan cara kerja software library, smart contract dapat bekerja dengan smart contract lainnya dalam suatu chain.
  • Storage, smart contract dapat menyimpan informasi tentang aplikasi, seperti informasi pendaftaran domain atau catatan keanggotaan. Penyimpanan dilakukan pada blockchain Ethereum agar datanya tidak dapat diubah dan tidak dapat dihapus.

Selain tiga kelebihan di atas, Ethereum juga memiliki tiga fitur unggul lainnya yang membuat aset kripto ini kian dilirik.  

Decentralized Applications (DApps)

Decentralized applications (DApps) adalah aplikasi atau program digital yang menyediakan layanan serupa seperti aplikasi pada umumnya. Perbedaannya adalah, DApps menggunakan teknologi blockchain untuk memberikan kendali lebih banyak pada pengguna atas data mereka tanpa adanya perantara terpusat. 

Dalam konteks aset kripto, DApps berjalan di jaringan blockchain, bersifat open source, terdesentralisasi dan bebas dari kendali dan campur tangan oleh otoritas tunggal. Berikut ini adalah dua contoh dApps yang dimiliki oleh Ethereum.

MakerDAO

MakerDAO adalah penyedia layanan kredit terdesentralisasi yang dijalankan pada platform blockchain Ethereum. MakerDAO menggunakan Dai, stablecoin yang nilainya dipatok ke dolar AS.

Siapa pun dapat menggunakan MakerDAO untuk membuka Collateralized Debt Position (CDP). Pengguna nantinya harus mengunci ETH sebagai jaminan, dan menggunakan Dai sebagai debt dari jaminan ETH. Pengguna dapat meminjam Dai hingga 66 persen dari nilai jaminan mereka, dengan rasio jaminan 150 persen. 

Token

Sesuai dengan kegunaannya, token dalam blockchain Ethereum terbagi atas dua jenis. 

Fungible Token (ERC20)

Token ERC20 adalah aset digital yang dapat dibuat oleh siapa saja. Namun, sebagian besar token ERC20 dibuat oleh organisasi dan perusahaan yang berfokus pada teknologi kripto.

Setiap token memiliki kegunaan spesifiknya sendiri, tergantung tujuan dari organisasi atau perusahaan tersebut. Token ERC20 biasanya dijual melalui berbagai penawaran sebagai cara untuk meningkatkan modal awal proyek yang mendasarinya.

Setiap token ERC20 disebarkan melalui jaringan Ethereum. Fungsi token diatur oleh smart contract untuk memastikan bahwa tidak gangguan dari pihak lain sehingga token dapat beroperasi dengan baik.

Non-fungible Token (ERC721)

Token ERC721, lebih sering disebut sebagai Token Non-Fungible (NFT) memungkinkan pengembang untuk memberi token kepemilikan dengan data yang lebih acak. Perbedaan terbesar dari token ERC721 dengan ERC20 adalah masing-masing token memiliki tanda pengenal yang berbeda. 

Alhasil, setiap token yang dicetak memiliki keunikan tersendiri bagi pemiliknya. Berbeda dengan token yang menggunakan standar ERC20, yang memiliki standar token yang sama. 

Baca juga: Perbedaan Koin dan Token dalam Aset Kripto

Cara Mendapatkan ETH

Pexels/AlphaTradeZone

Setelah mengetahui beragam keunggulan Ethereum, mungkin terbersit keinginan untuk menikmati layanan yang disediakan dalam blockchain-nya. Setidaknya, bagi Anda yang tak memiliki intensi membuat token atau aplikasi, memiliki aset ETH nampaknya menjadi hal yang menarik. 

Lantas bagaimana cara memilikinya? 

Ada beragam cara yang bisa Anda lakukan untuk mendapatkan ETH. Melakukan proses jual beli atau yang dikenal sebagai trading adalah salah satunya. Tetapi, di luar kedua aktivitas itu, masih ada cara lain yang bisa membuatmu mendapatkan ETH tanpa mengeluarkan biaya, yaitu mining atau menambang. 

Pool mining misalnya. Pool mining merupakan cara termudah dan tercepat untuk mendapatkan ETH. Pada pool mining, Anda bekerja sama dengan penambang lainnya. 

Dalam pool mining terdapat sebuah konsensus bersama. Apabila salah satu dari mereka berhasil memecahkan kode dan membuka kunci ETH, hadiah yang didapatkan akan dibagikan pada seluruh anggota kelompok mining. Seberapa sering Anda menemukan blok yang ingin dipecahkan tergantung dari ukuran pool yang dipilih.

Anda harus mencoba berbagai pool yang berbeda sebelum Anda menemukan pool yang paling sesuai untuk komputer Anda. Bergabung dengan kelompok mining kripto besar biasanya dapat menjadi pilihan yang lebih aman. Anda mungkin mendapatkan aset yang lebih sedikit, namun setidaknya Anda tidak perlu menunggu dengan jangka waktu yang lama untuk mendapatkan ETH.

Selain melalui pool mining, Anda bisa juga melakukan penambangan mandiri. Prosesnya hampir sama saja dengan Bitcoin. Pada setiap blok transaksi, miner menggunakan komputer khusus bernama graphical processing unit (GPU) secara berulang untuk memecahkan kode dan membuka kunci ETH.

Jika miner menemukan hash yang cocok, miner dapat membuka kunci ETH dan menyiarkan blok tersebut ke seluruh jaringan pada setiap node untuk melakukan validasi, dan menambahkan ke salinan ledger mereka sendiri. Jika seorang miner menemukan hash, miner lainnya akan berhenti bekerja pada blok tersebut dan memulai proses komputasi lagi untuk blok berikutnya.

Selain untuk mendapatkan ETH, mining juga berfungsi untuk menjaga jaringan blockchain agar dapat berfungsi dengan benar. Sehingga token dapat digunakan dua kali oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, yang dapat menurunkan nilai atau bahkan menghancurkan seluruh jaringan. 

Tetapi, bagi Anda yang ingin memiliki Ethereum tanpa harus mining, ada cara yang lebih mudah. Anda bisa membuat akun di platform perdagangan aset kripto yang telah teregulasi. Zipmex adalah salah satu di antaranya.

Zipmex merupakan platform perdagangan aset kripto yang menawarkan harga terbaik dan keamanan dompet tingkat tinggi. Zipmex juga bekerja sama dengan BitGo untuk menyediakan dompet digital dengan tingkat keamanan terbaik. Polis asuransinya pun mencapai 100 juta dolar AS. Mudah, kan?

Kalau begitu, tunggu apalagi. Yuk, daftar sekarang!

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter