Mengenal CBDC, Mata Uang Digital dari Bank Sentral

Posted on February 23, 2021 in Articles, Berita Kripto, Kriptopedia
View all Articles

Digitalisasi dalam bidang teknologi dan komunikasi memicu revolusi baru dalam berbagai dunia industri, tak terkecuali keuangan. Setelah menghadirkan beragam layanan digital, kini perbankan mesti menghadapi kehadiran aset kripto. 

Seiring popularitasnya yang turut meningkat, nilai aset kripto pun kini makin diperhitungkan. Tidak sedikit orang yang akhirnya beralih ke aset kripto untuk investasi. Sementara yang lainnya mulai menggunakan aset kripto sebagai alat transaksi jual beli. 

Kendati penggunaan aset kripto di Indonesia sebagai alat tukar dianggap ilegal. Nyatanya di banyak negara asing, sudah banyak merchant yang menambahkan aset kripto sebagai salah satu metode pembayaran. Bahkan Pemerintah Amerika Serikat kini telah mengeluarkan aset kripto berupa stablecoin bernama USDT yang mengacu pada harga dolar AS di pasar. 

Peningkatan minat masyarakat pada aset kripto membuat industri perbankan konvensional berjuang untuk mengendalikan aset kripto populer. Dua di antaranya adalah Bitcoin dan Ethereum. Sayangnya, kedua aset digital tersebut sudah dikenal luas sebagai cryptocurrency yang terdesentralisasi dan bebas regulasi. 

Baca juga: Bitcoin vs Ethereum, Mana yang Lebih Baik?

Dalam operasinya pun, Bitcoin dan Ethereum berjalan di atas blockchain. Sehingga, konfirmasi transaksi yang dilakukan tidak tergantung pada satu pihak saja. Melainkan melalui proses mining yang berisi teka-teki operasi matematis rumit dan tentu saja persetujuan dari seluruh nodes yang terlibat.  

Ketidakmampuan bank sentral atau otoritas pusat untuk mempengaruhi serta mengontrol Bitcoin dan Ethereum lantas membuahkan ide baru. Ide tersebut adalah membuat mata uang resmi dalam versi aset kripto. Cryptocurrency itu lantas akan bersifat sentralisasi. Sehingga diatur, dioperasikan, dan dikontrol oleh otoritas moneter masing-masing negara. 

Mata uang versi kripto tersebutlah yang dikenal sebagai CBDC (Central Bank Digital Currency). 

Lebih Dekat dengan CBDC

CBDC (Central Bank Digital Currency) adalah mata uang digital dari bank sentral. 

Sesuai dengan pengertiannya, maka CBDC akan bertindak sebagai representasi digital dari mata uang suatu negara. Sama seperti mata uang fiat pada umumnya, CBDC akan didukung oleh cadangan moneter yang sesuai dan disepakati negara. Dapat berupa emas maupun mata uang asing.

Karena diatur secara langsung oleh otoritas sentral milik Pemerintah, maka CBDC bisa menjadi instrumen digital yang aman dipertukarkan secara legal. Setiap unitnya dinilai setara dengan mata uang kertas yang berlaku. Oleh karena itu, CBDC dapat digunakan sebagai alat pembayaran dan penyimpan nilai, sama seperti mata uang fiat pada umumnya. 

Bukan cuma itu saja, tiap unit CBDC juga akan disertai nomor seri unik. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya peniruan. Nilainya pun akan dikendalikan bersama dengan alat tukar dan instrumen investasi terkait seperti uang kertas, koin, serta obligasi. 

CBDC memadukan kelebihan dari mata uang fiat dengan aset kripto. Menggunakan teknologi pembayaran berbasis blockchain, mata uang sentral versi digital itu berpotensi meningkatkan efisiensi pembayaran serta menurunkan biaya transaksi. 

Dari segi nilai, volatilitasnya pun tidak akan sesignifikan aset kripto pada umumnya. Sirkulasi uangnya juga diatur dan dilindungi undang-undang dari sistem perbankan konvensional. Sehingga tetap ada pihak ketiga, dalam hal ini bank sentral atau otoritas moneter yang bertanggung jawab secara penuh atas operasinya.

Perbedaan CBDC dengan Aset Kripto Biasa

CBDC rencananya akan mengadopsi teknologi dasar Bitcoin lalu melengkapinya dengan distributed ledger technology (DLT). 

DLT atau teknologi buku besar terdistribusi akan berisi catatan keuangan untuk melacak sirkulasi uang. Mulai dari jumlah kas yang dimiliki, transaksi yang dilakukan, hingga nominal uang keluar. Semua tercatat dalam DLT. 

Namun, berbeda dengan Bitcoin yang menyimpan seluruh catatan keuangan di berbagai entitas yang berbeda atau biasa dijuluki sebagai node. Catatan keuangan CBDC akan dikelola secara langsung oleh bank sentral negara. 

Sistem ini dikenal sebagai permissioned blockchain atau blockchain berizin. Hanya beberapa entitas terpilih saja yang dapat mengakses dan/atau mengubah blockchain. Akses kendali terhadap blockchain juga hanya dimiliki oleh entitas pusat. Jadi, tak semua orang bisa memodifikasi blockchain. Sebagian orang mungkin hanya punya akses untuk membacanya saja. 

Sangat berbeda dengan Bitcoin. Blockchain Bitcoin memungkinkan siapa saja untuk menjalankan perangkat lunak dan berpartisipasi dalam mengkonfirmasi transaksi di jaringan. Sifatnya yang terdesentralisasi membuat tidak adanya entitas pusat yang dapat menolak pengguna. 

Baca juga: Apa Itu Stablecoin?

Sistem DLT dalam CBDC akan memberikan Pemerintah ruang atas aspek-aspek tertentu, misalnya: 

Pasokan

Bitcoin punya batas tertentu yaitu 21 juta BTC di dalam protokolnya. Jumlah tersebut akan sulit untuk diubah. Sementara bank sentral bertanggung jawab atas suplai uang negara. Bank memiliki kendali untuk mencetak dan menarik uang dari pasar di saat-saat yang dibutuhkan. 

Hal tersebut dilakukan untuk beragam tujuan. Beberapa di antaranya adalah merangsang pertumbuhan ekonomi, menjaga suku bunga, dan beragam tujuan lainnya. 

Operasional

Bicara tentang operasional, berarti berbicara tentang pihak-pihak yang berpartisipasi dalam mengelola buku besar. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, CBDC akan memiliki sistem blockchain berizin. Sehingga tak semua orang punya akses untuk mengubah atau memodifasi blockchain. 

Biaya

Pendukung CBDC mengklaim sistem ini akan menurunkan biaya transaksi ketika melakukan pengiriman uang. Entitas keuangan yang terhubung melalui blockchain tentu akan hemat biaya.

Apabila dibandingkan dengan sistem keuangan yang terputus-putus dari satu bank dengan bank lainnya saat ini. Hasilnya, transaksi pun akan berjalan dengan lebih efisien. 

Kendali Keuangan

DLT memberikan catatan lengkap dari seluruh transaksi. Sistem tersebut dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah tertentu untuk mengawasi warganya. Salah satu contohnya adalah China. 

Pengawasan Pemerintah China yang ekstensif melalui DLT konon akan digunakan untuk mengawasi warganya dengan lebih ketat. Sementara itu, di Amerika Serikat, adopsi CBDC justru rencananya dimanfaatkan untuk menjaga privasi masyarakatnya. 

Negara-negara Pengadopsi CBDC

Sampai saat ini, sebenarnya belum ada Pemerintah yang secara resmi meluncurkan CBDC di negaranya. Tetapi, kenyataan itu tidak menutup kemungkinan bahwa CBDC tengah dipelajari dan dikembangkan.

Sebab, beberapa negara telah meluncurkan program percontohan dan proyek penelitian terkait untuk menentukan kelayakan dan manfaat CBDC. 

Beberapa bank sentral yang telah memulai penelitian CBDC adalah Bank of England (BOE). BOE merupakan pelopor yang memulai proposal CBDC. Jejak BOE lantas diikuti oleh People’s Bank of China (PBoC), Bank of Canada (BoC), bank sentral Uruguay, Thailand, Venezuela, Swedia, Korea Selatan, dan Singapura. 

Di Venezuela, proyek CBDC dikenal sebagai Petro. Digarap pada 2017, Petro rencananya akan mengacu pada stok fisik minyak mentah. Kemudian, setahun setelahnya, Venezuela juga berencana mengembangkan Petro Gold. Petro Gold rencananya akan dipatok pada nilai emas dan logam mulia lainnya. 

Selain Venezuela, pengembangan CBDC pada 2017 juga dilakukan oleh Rusia. Negara Beruang Merah itu membuat program bertajuk Crypto-ruble yang diumumkan secara langsung oleh Vladimir Putin. 

Pembuatan Crypto-ruble tersebut menuai beragam spekulasi. Salah satu di antaranya adalah minat putin untuk memanfaatkan layanan blockchain yang membuat transaksi yang dienkripsi.

Sehingga akan lebih mudah bagi Presiden Rusia itu mengirim uang secara diam-diam tanpa khawatir mendapatkan sanksi dari organisasi internasional. Namun, spekulasi itu belum terbukti. 

Apakah CBDC Akan Menggantikan Peran Uang Fiat? 

Sebagian besar negara menilai CBDC bukan sebagai mata uang utama. CBDC dianggap sebagai salah satu bentuk uang tambahan. Sehingga belum tentu nantinya mata uang ini akan menggantikan infrastruktur yang telah ada sebelumnya. 

Nah, kalau Anda sendiri, sepakatkah dengan kehadiran CBDC? 

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter