Apakah Bitcoin bisa di Hack?

Posted on December 30, 2020 in Articles, Kriptopedia
View all Articles

Apakah Bitcoin bisa di Hack?

Dengan popularitas Bitcoin yang semakin berkembang, kekhawatiran seputar hal tersebut juga meningkat. Apakah Bitcoin bisa di Hack? Terutama merupakan technology-based, menimbulkan pertanyaan apakah itu dapat di hack atau tidak. Terdapat banyak sistem teknologi yang diretas akhir-akhir ini, dan karena hal itu, Anda ingin lebih aman saat memilih apapun yang berkaitan dengan teknologi. 

#ZipmexArticle kali ini akan membantu dan menunjukan kepada Anda apakah Bitcoin bisa di hack atau tidak beserta alasannya. 

Pernahkah Bitcoin di hack Sebelumnya?

Jawaban sederhananya adalah tidak. Jika Anda pernah mendengar atau melihat berita tentang peretasan Bitcoin, apa yang diretas adalah Bitcoin wallet atau orang yang mempunyai wallet ini. Sebagian besar, sebagai hasil dari ini, orang kehilangan Bitcoin mereka. Namun, Bitcoin sendiri tidak pernah di kompromisasi. 

Yuk Baca: Cara Legal mendapatkan Uang melalui Bitcoin

Mengapa Bitcoin dianggap Hack-proof?

Bitcoin dianggap hack-proof karena sistem yang menjadi bagiannya meliputi:

Blockchain & Nodes 

Dikarenakan sistem yang terdesentralisasi dan tersebar, kegagalan pada satu bagian tidak dapat mempengaruhi sistem secara keseluruhan. Sistem menyebar secara luas dan jika Anda benar-benar mencoba untuk menyerang sistem, Anda harus menyerang sistem keseluruhan secara bersamaan dan melakukannya dari jumlah entry points yang besar. Fakta membuktikan bahwa ini mustahil secara virtual, karena hal itu belum terjadi. Keamanan blockchain dengan tingkat tinggi membuat digital currency merupakan opsi yang mungkin digunakan oleh berbagai user di seluruh dunia. 

Hal ini membuat peer-to-peer Blockchain terus berjalan. Dengan teknologi Blockchain yang terdesentralisasi secara alami, nodes membantu untuk menyebarkan pesan ke seluruh jaringan dan memastikan transaksi tersebut aman. Nodes memastikan bahwa transaksi yang sama menggunakan token digital tidak terjadi lebih dari satu kali. Sebelum transaksi selesai, detail atau kondisi dari exchange akan dipastikan dengan bagian lain dari jaringan melalui node. Jika kondisi tidak sesuai, maka transaksi tidak diizinkan. Terdapat banyak nodes, yang secara acak tergenerasi bahwa meretas mereka adalah mustahil secara virtual, hingga hari ini. 

Hashing & Mining 

Hashing menggunakan keamanan selama adanya transaksi pada orang-orang. Formula atau algoritma membentuk hash yang unik pada pesan transmisi pada exchange dan menjaganya untuk tetap aman dari kerusakan. Di Bitcoin, hashing adalah transaksi yang diambil sebagai input dan dijalankan oleh algoritma hashing yang membentuk sebuah output dari kode unik. 

Bitcoin ditambang dengan memecahkan masalah matematika yang sangat kompleks. Permasalahan ini dibuat oleh Bitcoin hashing. Ketika permasalahan ini terpecahkan, blok baru ditambahkan kepada Blockchain. Sebelum block dapat secara penuh ditambahkan dan dan terkonfirmasi di Blockchain, semua node harus setuju, maka Bitcoin Ledger akan terbarukan. 

Bagaimana Bitcoin dapat Diretas?

Dengan desentralisasi dan ribuan eksemplar node yang tersebar pada jaringan komputer, meretas Bitcoin sangatlah sulit dan tidak akan pernah terjadi. Mari lihat pada cara teoritikal Bitcoin dapat dikompromi sasikan. Cara satu-satunya yang dapat terjadi disebut 51% attack.

Disebut 51% attack karena peretas membutuhkan lebih dari setengah komputer untuk terlibat dalam Bitcoin guna meretasnya secara sukses. Peretas harus mengambil alih tidak hanya setengah, melainkan seluruh daya jaringan menambang, yang berarti adalah hash rate.  Ketika peretas telah mengambil alih, riwayat transaksi dapat berubah. 

Jaringan secara keseluruhan memungkinkan 51% untuk secara sukses meretasnya. Namun, mengambil alih secara keseluruhan sangatlah sulit dan tidak mungkin terjadi. 

Baca Selengkapnya: Bagaimana Bitcoin dan Kritpo Lain Mendapatkan ‘Nilai’nya

Bagaimana cryptocurrencies dicuri?

Walaupun Bitcoin sulit diretas, merupakan cerita yang berbeda bagi orang yang memiliki dan menggunakan Bitcoin pada transaksi harian yang mereka buat. 

Platform Trading

Kejahatan Cyber dapat meretas platform trading. Melalui platform trading, peretas mendapatkan kode API (Application Programming Interface). Ini menjadi cara langsung untuk dapat memasuki sistem. Kode ini dapat digunakan untuk bot sebuah program yang dapat melakukan withdraw dana dari akun atau untuk melakukan kecurangan dalam trading. Sebuah contoh ketika Coincheck, sebuah exchange yang berpusat di Tokyo diretas pada tahun 2018, dan sekitar $500 juta cryptocurrency tercuri. 

Aplikasi Pihak Ketiga

Aplikasi pihak ketiga dapat membantu traders untuk tetap update dengan harga cryptocurrency. Mereka juga dapat menghitung keuntungan potensial pada sebuah jaringan. Namun, mereka muncul dengan satu resiko potensial keamanan. Data dari pengguna dapat digunakan sebagai informasi untuk peretas semenjak kredensial yang diperoleh dari data dapat digunakan sebagai untuk mentarget pengguna yang menggunakan aplikasi. 

Simak Selengkapnya: Seberapa Sulit Menambang Bitcoin

Formulir Registrasi 

Tak jarang, peretas membuat sebuah situs palsu dan formulir registrasi dengan kode bawaan yang dapat mencuri informasi personal pengguna. Informasi ini dapat dikirim ke server data dan dapat dijual pada black market serta digunakan untuk membuat akun pada platform asing lain.

Phishing 

Dengan menyamar sebagai website yang sah, penjahat kripto mendapatkan akses pada kredensial pengguna. Mereka tidak hanya melakukan ini melalui situs, namun juga e-mail yang terlihat sah, mengarahkan pengguna langsung kepada situs. Kredensial pengguna dapat digunakan untuk aktivitas online tanpa sepengetahuan pengguna. 

Peretasan yang terkenal pada sebuah exchange adalah peretasan Twitter. Akun yang berpotensi untuk diretas dan digunakan oleh pengguna lain untuk melakukan exchange Bitcoin pada wallet dari penjahat cyber.   

Peretasan lainnya terjadi pada Mt Gox, sebuah bisnis yang memungkinkan pengguna melakukan trade untuk aset lain dalam jenis currency yang berbeda. Pada tahun 2010, MT Gox melakukan listing kembali menjadi Bitcoin exchange, sebuah bisnis yang memungkinkan untuk melakukan cryptocurrencies trading dan currency digital untuk aset lainnya.  Dikarenakan tindakan keamanan yang kurang memadai, peretas mencuri lebih dari $850,000 pada Bitcoin. Peretasan ini menyebabkan exchange tersebut harus mengalami kebangkrutan pada tahun 2014 dan membuat banyak orang sangat marah. 

Bitcoin terdesentralisasi, tersebar, dan aman dari peretasan, terutama karena sistem yang terhubung dengannya, seperti Blockchain. Teknologi Blockchain membuatnya semakin sulit untuk orang atau bot menembus jaringannya. 

Baca juga: Apa itu Hardfork dan Keuntungannya

Walaupun Bitcoin tidak dapat diretas, hal yang sama tidak bisa dikatakan kepada wallet digital pengguna. Peretas dapat mencuri Bitcoin dengan mendapatkan akses ke wallet pengguna. Oleh karena itu, orang-orang perlu melindungi bitcoin dan waspada terhadap kecurangan transaksi atau situs. Mereka juga harus berhati-hati dengan dimana mereka memberikan personal dan kredensial digital. 

Tetap saja, hingga hari ini banyak orang yang masih khawatir dengan apa yang terjadi jika jaringan Bitcoin mereka hancur karena peretasan. Namun, seperti yang kami telah jelaskan peretasan di dunia kita yang modern hampir mustahil. Untuk menghindari diri menjadi sasaran, kami sangat menyarankan untuk menjaga keamanan kredensial Anda. Simpan pengunci anda secara offline dan tempat yang aman dari sisi gelap web.

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter