Cryptoqueen, Penipu Aset Kripto Nomor Satu di Dunia

Posted on January 15, 2021 in Articles, Berita Kripto
View all Articles

Dunia perdagangan aset digital sempat digemparkan dengan hadirnya mata uang digital baru bernama OneCoin. Aset kripto itu mengklaim diri akan menjadi mata uang digital nomor wahid yang digadang-gadang mampu menyaingi kedigdayaan cryptocurrency pertama, Bitcoin. 

OneCoin pertama kali muncul di permukaan pada 2014 lalu. Tidak ada yang tahu pasti, kapan aset kripto ini diluncurkan. Namun, menurut dokumen yang diterima BBC, sepanjang Agustus 2014 sampai Maret 2017, ada lebih dari 4 miliar Euro atau setara dengan 62 triliun rupiah yang telah mengalir ke OneCoin. Dana segar tersebut berasal dari investor di berbagai negara, mulai dari Norwegia hingga Palestina. 

Mata uang digital yang disebut-sebut sebagai “Bitcoin Killer” itu pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Ruja Ignatova, seorang pebisnis asal Bulgaria. Ia menggelar acara di Wembley Arena, London untuk memperkenalkan dan memasarkan OneCoin pada masyarakat Inggris. 

Dengan mengenakan gaun mewah berwarna merah dengan lipstik senada serta anting berlian, Ignatova memperlihatkan kelihaiannya. 

Ia mengatakan bahwa OneCoin adalah aset kripto yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan bernama OneCoin Limited yang beroperasi di Eropa, Hong Kong, dan Uni Emirat Arab. Mata uang digital ini akan menjadi yang terbesar di dunia, bahkan mengalahkan Bitcoin. Tidak cuma itu saja, Ignatova juga mengatakan bahwa OneCoin akan mempermudah orang untuk melakukan transaksi dimanapun. 

Beragam kelebihan OneCoin yang dipadukan dengan kemampuan Ignatova berbicara membuat banyak orang takjub dan tertarik pada aset kripto, terutama OneCoin. Padahal, berinvestasi dalam mata uang digital di masa tersebut belum menjadi sesuatu yang lazim dan banyak dilakukan. Namun, Ignatova berhasil meyakinkan peserta acaranya untuk berinvestasi. 

Alhasil, usai acara dilakukan, ia mendapatkan investasi sebesar 30 juta Euro atau 465 miliar rupiah dari beragam investor asal Inggris. Sejak saat itu, Dr. Ruja Ignatova dikenal sebagai cryptoqueen atau Ratu Dunia Kripto. 

Sayang, kabar baik tak sampai berhenti di situ saja. 

cryptoqueen ruja ignatova
Source: The Times UK

OneCoin Menuai Kecaman

Kehadiran OneCoin nyatanya penuh dengan kritik dan kecaman. Seperti yang diberitakan Daily Mirror pada Februari 2016, OneCoin adalah bentuk penipuan berskema Ponzi dan sebaiknya diabaikan. Skema Ponzi (Ponzi Scheme) adalah modus investasi palsu yang membayarkan keuntungan pada investor dari uang investor berikutnya, bukan dari profit yang dihasilkan oleh bisnis perusahaan. 

Desember 2016, Otoritas Antitrust Italia memerintahkan perusahaan One Network Services Ltd., yang aktif dalam promosi dan penyebaran mata uang digital OneCoin untuk berhenti beroperasi di Italia. Perusahaan tersebut dilarang untuk mempromosikan dan melakukan penjualan OneCoin di negara yang terkenal akan pizza dan sepak bolanya itu.  

Berbagai kecaman ini nyatanya hanya dianggap angin lalu oleh Dr. Ruja Ignatova. Seperti yang disampaikan oleh saudaranya Konstantin Ignatov, Dr. Ruja menganggap bahwa berbagai kritik yang ditujukan pada OneCoin hanyalah ‘ujaran kebencian’. Tetapi, seperti kata pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga,” begitulah kelanjutan kisah hidup OneCoin dan Cryptoqueen. 

Bjorn Bjercke, Calon Karyawan Yang Mengungkap Keanehan OneCoin

Empat bulan setelah kemunculan sang ratu kripto di London, seorang ahli blockchain bernama Bjorn Bjercke, mendapatkan panggilan dari agen perekrutan. Ia ditawari sebuah pekerjaan yang menarik. 

Agen tersebut mengatakan bahwa ada sebuah startup cryptocurrency dari Bulgaria yang tengah membutuhkan CTO untuk perusahaannya. Perusahaan tersebut juga menyediakan fasilitas kelas atas untuk Bjercke. Beberapa fasilitas yang akan didapatkannya antara lain apartemen, mobil, dan gaji sekitar 250 ribu poundsterling atau sekitar 4,8 miliar rupiah perbulannya.

“Saya berpikir, ‘Apa pekerjaan saya nanti? Apa saja yang harus saya lakukan untuk perusahaan ini?” ujarnya dalam pengakuannya kepada BBC. Pihak agen lantas mengatakan bahwa Bjercke mesti membangun blockchain bagi perusahaan tersebut. Tentu Bjercke bingung, sebab menurutnya, sebagai perusahaan cryptocurrency, harusnya perusahaan tersebut telah memiliki sistem blockchain, apalagi kantor tersebut telah beroperasi cukup lama.

Merasa ada yang tidak beres, Bjercke lantas bertanya nama perusahaan tersebut. “OneCoin,” jawab sang agen. Begitu mendengar jawaban tersebut, Bjercke memilih untuk tidak menerima pekerjaan itu.

onecoin logo

Aduan Jen McAdam

Di waktu dan tempat yang berbeda, seorang warga negara Inggris, Jen McAdam mendapatkan sebuah email dari seorang rekan. Email itu berisi tawaran investasi dan undangan webinar OneCoin. Selama satu jam, ia mendengarkan dengan antusias penjelasan dari pembicara tentang hadirnya jenis mata uang kripto baru serta bagaimana aset tersebut dapat menambah kekayaannya.

Pembawa acara webinar juga tak lupa menjelaskan latar belakang Dr. Ruja Ignatova yang gemerlap. Wanita asal Bulgaria itu diperkenalkan sebagai seorang lulusan Universitas Oxford. Ia memiliki gelar PhD dari Konstanz, dan melakukan kerjasama dengan konsultan manajemen ternama seperti McKinsey and Co. 

Pada webinar itu juga ditampilkan pidato Dr. Ruja pada konferensi yang diselenggarakan oleh majalah The Economist. Seluruh tersebut membuat McAdam makin tertarik dengan apa yang dilakukan oleh sang cryptoqueen

Saking terkesimanya, setelah webinar ditutup, McAdam memutuskan untuk berinvestasi sebesar 1.000 euro atau sekitar 17 juta rupiah. Tidak lama kemudian, dia kembali menanamkan investasi sebesar 10.000 Euro atau sebesar 155 juta rupiah. Bersama dengan teman-temannya, Ia bahkan sempat mempromosikan OneCoin. 

Suatu hari, sekitar akhir tahun 2016, seorang pengamat kripto, Timothy Curry, menghubungi McAdam. Ia mengatakan bahwa OneCoin adalah sebuah penipuan. Jen tak langsung percaya. Untuk meyakinkan McAdam, Curry lalu mengenalkannya pada kepada Bjorn Bjercke, pengembang blockchain yang tak jadi mengambil tawaran pekerjaan di OneCoin. 

Setelah mendengar berbagai penjelasan, terutama dari parah ahli, McAdam mendapati bahwa lonjakan angka di situs OneCoin sebenarnya tidak ada nilainya. Besaran angka itu hanya sekadar bilangan yang diketik pegawai OneCoin.

Sang Ratu Hilang Tanpa Jejak

Jen McAdam adalah satu di antara 70 ribu korban mulut manis Ignatova. Perempuan asal Glasgow itu tidak tinggal diam. Ia mulai memberitahu dan mengingatkan investor-investor lainnya. Dalam wawancara dengan BBC, McAdam mengaku bahwa ia sempat mendapat ancaman kekerasan seksual melalui Facebook akibat tindakannya. Namun ia tetap tak berhenti. 

Sementara itu, Cryptoqueen masih terus melancarkan aksinya untuk memperkenalkan dan menjual OneCoin. Sampai akhirnya, pertemuan penukaran OneCoin yang diadakan di Lisbon, Portugal pada Oktober 2017 menuai masalah. Pasalnya, cryptoqueen tidak kunjung hadir pada acara tersebut. Para investor pun menjadi semakin khawatir. 

Panggilan telepon dan pesan tidak dijawab. Kantor pusatnya di Sofia, Bulgaria juga tidak mengetahui keberadaan Dr. Ruja Ignatova. Menurut data FBI, pada tanggal 25 Oktober 2017, Dr. Ruja melakukan perjalanan menuju Athena, Yunani. 

Di tengah hilangnya sang cryptoqueen, Maret 2019 lalu, pendiri OneCoin dan juga saudara dari Dr. Ruja, Konstantin Ignatov ditangkap di bandara Los Angeles. Ia mengakui kesalahannya atas penipuan berkedok mata uang kripto dan pencucian uang. Investigator menemukan bahwa jumlah penipuan yang sudah dilakukan oleh OneCoin adalah sebesar 4 miliar Pound sterling. 

Sejak saat itu, sang cryptoqueen lenyap bak ditelan bumi. Tak ada kabar apalagi batang hidungnya.