Bagaimana Cara Kerja Blockchain?

Posted on January 25, 2021 in Articles, Kriptopedia
View all Articles

Saat mulai memasuki dan mempelajari perdagangan aset digital, tentu Anda sering mendengar istilah Blockchain. Meski terdengar asing, nyatanya blockchain bukanlah barang baru. Pasalnya, blockchain tidak hanya diterapkan dalam perdagangan aset digital saja. Sebelum digunakan dalam aset kripto, blockchain telah diterapkan pada berbagai sektor seperti perbankan, teknologi, retail, dan masih banyak lagi. Lalu, bagaimana cara kerja blockchain?

Kali ini, Zipmex akan mengulas secara dalam mengenai blockchain dan bagaimana cara kerjanya. Sudah siap?  

Apa itu Blockchain?

Blockchain adalah sebuah teknologi baru. Disebut baru karena istilah blockchain baru populer ketika jaringan ini dikembangkan sebagai bagian dari mata uang Bitcoin yang muncul pada 2009 lalu. Tidak jarang istilah Bitcoin dan blockchain juga sering tertukar. Padahal, keduanya adalah hal yang berbeda namun saling melengkapi. 

Meski dijuluki sebagai teknologi baru, ide awal blockchain telah ada sejak 1991. Ide tersebut dituangkan Scott dan Stornetta dalam Journal of Cryptography yang bertajuk “How to Time-Stamp a Digital Document”.

Sesuai dengan namanya, blockchain adalah rantai blok yang berurutan atau grup transaksi yang dirangkai bersama dan didistribusikan di antara pengguna. Setiap blok memiliki buku besar atau yang biasa disebut dengan ledger dan tiga elemen lain di dalamnya, yaitu:

Data

Jenis data bergantung pada tujuan blockchain digunakan. Dalam Bitcoin, misalnya, data blok berisi detail transaksi termasuk pengirim, penerima, jumlah koin, dan sebagainya.

Hash 

Hash merupakan data yang berisi informasi seperti sidik jari atau tanda tangan. Teknologi ini mengidentifikasi blok beserta semua isinya dalam bentuk kode unik.

Hash dari blok sebelumnya

Bagian inilah yang membentuk blockchain. Karena setiap blok membawa informasi historis dari blok sebelumnya, sehingga rantai blockchain menjadi sangat aman.

Cara kerja blockchain adalah dengan mencatat informasi ataupun transaksi yang tidak dapat diubah. Sifatnya yang desentralisasi membuat Blockchain tidak bergantung pada otoritas eksternal untuk meminta validasi keaslian dan integritas data. Kendati transaksi yang dilakukan pada blockchain biasanya bersifat aset atau investasi, tetapi blockchain dapat menyimpan segala jenis informasi dalam satu blok yang sama. 

Karakteristik Blockchain

Keunggulan teknologi blockchain berasal dari keamanan sistem yang terdistribusi. Berdasarkan alasan tersebut, ada beberapa karakteristik yang dimiliki untuk mengembangkan blockchain. Berikut merupakan empat karakteristik dari blockchain

Memiliki Hash Kriptografi

Hash adalah fungsi kriptografi yang mengubah data menjadi string angka atau kode unik. Setiap hash memiliki data yang berbeda. Jadi, jika Anda menggunakan satu kode hash yang sama, maka nilai atau data yang keluar akan selalu sama. 

Salah satu fitur penting lainnya dari hash adalah konversinya yang bersifat satu arah. Untuk setiap data yang dimasukkan, algoritma hash akan menghasilkan kode yang berbeda di masing-masing datanya.

Node Blockchain menggunakan hash untuk membuat kode pengenal unik dari setiap blok transaksi. Setiap blok menyertakan nilai Hash dari blok sebelumnya. 

Berikut merupakan contoh bentuk hash:

761A7DD9CAFE34C7CDE6C1270E17F773025A61E511A5

Ledger Yang Tidak Dapat Diubah

Fitur ini terkait erat dengan karakteristik sebelumnya. Karena setiap mata rantai berisi Hash dari blok sebelumnya, maka tidak mungkin untuk mengubah blok apapun tanpa mengubah seluruh rantai. Maka dari itu, rantai tersebut berfungsi sebagai ledger digital yang tidak dapat diubah.

Jaringan yang Bersifat P2P

Blockchain tidak membutuhkan otoritas kepercayaan eksternal atau internal karena data yang terdapat pada blockchain dapat didistribusikan pada seluruh pengguna. Masing-masing pengguna memiliki salinan transaksi dan blok hashnya sendiri. Mata rantai dalam blockchain tersebut yang menyebarkan informasi dari setiap transaksi baru ke seluruh jaringan. 

Dengan cara ini, tidak ada yang bisa mengubah informasi dalam rantai. Sebab, data tersebut tidak hanya disimpan oleh satu individu saja, melainkan oleh seluruh jaringan pengguna node. Apabila ada transaksi baru, maka blok transaksi tersebut akan divalidasi. 

Setelah divalidasi, blok ditambahkan ke rantai dan setiap pengguna akan memperbarui informasi. Bahkan, jika ada ‘tangan-tangan usil’ yang mencoba untuk mengubah rantai lokal Anda, pihak tersebut tidak akan menerima blok apapun dari blockchain yang diubah.

Memiliki Protokol Konsensus

Sebelum menambahkan lebih banyak blok, pengguna harus memenuhi kesepakatan tentang validitas rantai. Setiap kali node menambah blok baru, semua pengguna harus memvalidasi blok tersebut dengan menggunakan protokol umum. Biasanya, node akan mencapai konsensus mengenai hadirnya blok baru melalui metode Proof of Work atau Proof of Stake. 

Melalui Proof of Work, node akan memeriksa apakah blok baru tersebut sudah memenuhi persyaratan mereka dan seluruh transaksinya tervalidasi. Jika blok tersebut valid, maka node akan menganggap blok baru itu sebagai bagian dari blockchain dan langsung menambahkannya dalam jaringan. 

Bagaimana Cara Kerja Blockchain?

Blockchain dimulai ketika sebuah blok menerima data baru. Sistem blockchain sendiri terdiri atas transaksi dan blok. Setiap blok berisi rangkaian hash kriptografi dan hash dari blok sebelumnya, sehingga dapat membentuk sebuah jaringan.

Sifatnya yang P2P (Peer to Peer) membuat komputer dalam jaringan memeriksa dan memastikan informasi atau data dalam blok adalah transaksi yang valid. Proses ini adalah proses terdesentralisasi yang terjadi di antara berbagai node jaringan.

Setelah menerima informasi baru, hash kriptografi akan mengambil data tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah rangkaian kode unik (compact string). Kode unik itu dapat mendeteksi adanya potensi kecurangan dari ‘tangan-tangan jahil’. 

Lalu, setelah transaksi diverifikasi dan dianggap valid, data tersebut ditambahkan ke satu blok baru. Setiap blok berisi kode unik yang disebut sebagai hash yang hash-nya sendiri dan hash dari blok sebelumnya. Sehingga, pengguna akan selalu tahu di mana lokasi blok tersebut dalam rantai.

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter