Apa Itu 51% Attack?

Posted on January 22, 2021 in Articles, Kriptopedia
View all Articles

Sejak Bitcoin diluncurkan pada tahun 2009, Proof-of-Work telah menjadi metode utama untuk mengamankan mata uang kripto yang terdesentralisasi dari berbagai macam penipuan dan kecurangan. Proof-of-Work bertujuan untuk menyulitkan penipu atau orang yang berniat mencuri dalam menulis ulang blockchain dan membalikkan transaksi yang dianggap telah diselesaikan. 

Meskipun keamanan sudah dirancang dengan sangat ketat, nyatanya masih saja terjadi 51% attack atau serangan 51%. Apa itu 51% attack dan bagaimana terjadinya penyerangan tersebut? Kali ini Zipmex akan mengulas secara tuntas mengenai attack 51%.

Definisi 51% Attack

51% Attack adalah bentuk serangan terhadap blockchain. Serangan ini paling umum dilakukan pada Bitcoin. Biasanya digencarkan oleh sekelompok miners yang mengontrol atau mengendalikan lebih dari 50 persen dari tingkat mining hash jaringan. 

Hal ini bisa terjadi ketika satu atau sekelompok miners mengambil kendali sebagian besar blockchain berbasis Proof-of-Work. Dengan cara tersebut, para penyerang dapat mencegah transaksi baru untuk melangsungkan konfirmasi. Konfirmasi yang tertunda memungkinkan pembayaran antara beberapa atau semua pengguna terhenti. Mereka juga dapat membalikkan transaksi yang telah diselesaikan dan membuat masalah double-spending.

Double-spending adalah kondisi di mana mata uang digital dalam blockchain dipalsukan atau digandakan. Biasanya koin atau token hasil pemalsuan atau penggandaan digunakan hingga dua kali. Padahal biasanya, token hanya dapat digunakan satu kali saja. Hasilnya, sistem operasi jaringan pun akan terganggu.

Bentuk Serangan yang Dilakukan

Menggandakan Pengeluaran

Salah satu hal yang bisa dilakukan penyerang saat serangan 51% adalah mengirimkan koin yang sama pada beberapa orang yang berbeda. Anggaplah koin tersebut dikirimkan ke dua orang yang berbeda. Maka aset yang dikirimkan ke orang pertama akan ditampilkan secara publik di blockchain penyerang. 

Sementara itu, tanpa disadari, dengan kekuatan hashing yang besar, penyerang diam-diam akan menambang blok untuk transaksi pembelanjaan ganda pada orang kedua. Namun kegiatan ini dilakukan tanpa ditampilkan ke seluruh jaringan.

Setelah transaksi dengan orang pertama terkonfirmasi valid pada blockchain publik, penyerang akan menampilkan blok tambang tersembunyi miliknya dalam network. Di dalam blok tersebut akan terlihat bahwa ia melakukan transaksi dengan koin yang sama dengan orang kedua dan telah terkonfirmasi valid. Hasilnya, transaksi yang dikirim ke orang pertama akan dibatalkan. 

Mining power yang besar membuat penyerang dapat memunculkan blockchain yang lebih panjang dari aslinya dan memvalidasi bloknya. Sehingga transaksi nampak seperti nyata dan valid padahal tidak. Penyerang pun akhirnya telah mendapatkan aset dari kedua korbannya.

Memblokir Transaksi

Siapa pun yang dapat mengontrol sebagian besar kekuatan hashing, dapat pula memutuskan transaksi mana yang akan disertakan pada blok berikutnya. Karena itu, penyerang bahkan dapat memutuskan untuk membangun blok yang benar-benar kosong, tanpa transaksi.

Kisah Nyata 51% Attack

Juli 2014 lalu, mining pool kenamaan GHash.IO sempat melampaui ambang batas 51% dan mendominasi hashrate Bitcoin mining. Komunitas bitcoin langsung buru-buru membahas solusi dari ancaman ini. Kondisi pool yang mendadak berkembang ini menyebabkan pengembang bitcoin terkemuka, Peter Todd terpaksa menjual setengah dari aset kepemilikannya. 

Akibat berita 51% attack, harga bitcoin turun dari USD 633 menjadi USD 600 di masa itu. Untuk meredakan kepanikan massa, GHash.IO merilis pernyataan yang menjanjikan bahwa mining pool tidak akan melebihi 40% dari keseluruhan hashrate bitcoin. Selain itu, perwakilan GHash.IO meminta miners lainnya untuk memberikan contoh baik demi seluruh komunitas Bitcoin. 

Ia juga menyatakan bahwa komite baru harus dibentuk untuk bertindak sebagai pengawas terhadap masalah 51% attack. Komite ini akan mencakup perwakilan dari kumpulan penambangan, bisnis Bitcoin, dan spesialis lainnya.

Apakah 51% Attack Dapat Dicegah?

Tentu saja. Tindakan utama yang dapat dilakukan untuk mencegah 51% attack adalah desentralisasi miners atau penambang. Selama tidak ada entitas tunggal yang memiliki kendali lebih dari 50% dari mining power, jaringan tersebut aman.
Blockchain yang kuat seperti Bitcoin sudah dianggap memiliki keamanan yang ketat. Sebab, untuk mendapatkan 51% dari mining power jaringan Bitcoin, tentunya membutuhkan jumlah uang yang sangat banyak. Selain itu, apabila ada pihak atau institusi yang memiliki mining power yang besar, pihak itu bisa saja menggunakan kemampuannya untuk melakukan mining secara sah. Ketimbang dengan memblokir transaksi atau pengeluaran ganda.

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter