Alasan Mengapa Transaksi Bitcoin Terasa Lambat

Posted on January 23, 2021 in Articles, Kriptopedia
View all Articles

Meski Pemerintah Indonesia telah melegalkan aset kripto sebagai komoditas perdagangan, kedudukan cryptocurrency belum bisa menyaingi mata uang fiat. Selain karena undang-undang hanya melegalkan rupiah sebagai alat tukar yang sah, transaksi Bitcoin juga dinilai memakan waktu lama.

Durasi waktu yang dibutuhkan untuk sekali transaksi Bitcoin berkisar antara 10-30 menit. Tak jarang hal ini membuat penggunanya merasa kesulitan, baik dari segi pengirim maupun penerima aset.

Mengapa bisa? Simak ulasan berikut ini untuk mengetahui informasi yang lebih mendetail!

Baca juga: Mengenal SegWit dan Fungsinya untuk Bitcoin

Cara Kerja Bitcoin

Transaksi Bitcoin
Pexels

Tiap 10 menit sekali, sebuah blok baru dibuat dan ditambahkan ke dalam rangkaian blockchain. Proses penambahan blok ini dikenal sebagai mining atau penambangan.

Masing-masing blok akan melakukan verfikasi dan mencatat setiap transaksi baru yang terjadi. Transaksi-transaksi itu lantas akan dikonfirmasi oleh blockchain. Sepanjang blok baru belum berhasil muncul, maka transaksi belum dapat terkonfirmasi.

Setelah transaksi terkonfirmasi, pesan transaksi dikirim ke blockchain Bitcoin dan diteruskan ke seluruh node di jaringan. Transaksi yang masih belum terkonfirmasi akan menunggu hingga miner (penambang) melakukan validasi. Aktivitas inilah yang dijuluki sebagai antrean Mempool. Miner akan memvalidasinya dengan memecahkan algoritma matematika kompleks sebagai Proof of Work.

Baca juga: Apakah Bitcoin bisa di Hack?

Alasan Transaksi Bitcoin Terasa Lambat

Antrean Mempool yang Terhenti

Ada banyak hal yang bisa membuat antrean mempool terhenti. Salah satu di antaranya adalah kurangnya miner (penambang) yang bertugas memvalidasi transaksi. Sehingga, ketika transaksi dilakukan, dana-dana akan tertahan di Mempool menunggu konfirmasi dari jaringan blockchain.

Selama dana belum diproses, transaksi tidak akan dicatatkan oleh blockchain. Apabila transaksi dianggap tidak valid, maka Mempool berhak unuk menolak transaksi tersebut.

Selain itu, alasan lainnya adalah karena tingginya permintaan akan transaksi Bitcoin. Sementara jumlah Bitcoin yang tersedia terbatas, begitu pula dengan sumber daya lainnya.

Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya Anda memilih aset kripto sesuai dengan kebutuhan. Sebab, masing-masing aset kripto memiliki kelebihan, kekurangan, serta kecepatan yang berbeda dalam melakukan transaksi.

Biaya Transaksi yang Terlalu Rendah

Semakin tinggi biaya transaksi, semakin cepat dana yang Anda kirim dapat sampai di akun penerima.

Ketika transaksi menunggu antrean di Mempool, penambang cenderung memilih untuk mengambil transaksi dengan biaya tinggi. Hal ini dilakukan karena penambang juga membutuhkan dana untuk melakukan komputasi. Baik dari segi energi maupun listrik.

Baca juga: Bitcoin vs XRP: Aset Mana Yang Lebih Baik?

Jaringan Macet

Pexels/D’Vaughn

Masing-masing blok dalam blockchain berisi kumpulan data transaksi yang tidak melebihi 1 MB. Secara teknis, blockchain Bitcoin hanya mampu menangani sekitar tujuh transaksi saja per detik. Jika waktu untuk memesahkan algoritma matematika kompleks juga diperhitungkan, maka waktu rata-rata yang dibutuhkan mencapai 10 menit.

Ketika jaringan blockchain sedang mengalami peak traffic, transaksi Bitcoin juga akan ikut tertunda dan tertumpuk. Apabila hal ini terjadi, maka kondisi dalam jaringan akan kembali ke poin sebelumnya. Penambang bebas memilih transaksi mana yang hendak didahulukan berdasarkan jumlah biaya yang ditawarkan.

Ukuran Transaksi

Transaksi besar memakan banyak ruang. Padahal satu blok dalam blockchain hanya dapat menyimpan informasi hingga 1 MB saja. Menambah transaksi berkapasitas besar hanya akan memperlambat cara kerja blok yang ada.

Oleh karena itu, biasanya miners akan lebih cenderung memilih transaksi yang relatif lebih kecil. Sebab lebih mudah divalidasi dan lebih cepat. Ditambah lagi, ukuran transaksi juga akan mempengaruhi beban jaringan dan biaya transaksi. Biasanya, biaya yang dikenakan pada saat jaringan sedang sibuk untuk transaksi berkapasitas besar juga akan lebih besar.

Spam

Cryptocurrency populer seperti Bitcoin pastinya bukan hanya menuai kagum. Aset kripto ini juga tentu menjadi sasaran spam oleh pelaku kejahatan. Dalam operasinya, pelaku kejahatan akan memenuhi jaringan dengan banyak transaksi kecil berbiaya rendah dari satu alamat ke alamat lain.

Cara itu biasanya dikenal sebagai TX spam dan digunakan oleh pesaing untuk mengumpulkan informasi tentang pemilik. Informasi pribadi itu nantinya akan digunakan untuk phising. Isu keamanan ini nantinya akan menjadi pemicu bagi pengguna untuk tidak lagi menggunakan Bitcoin.

Baca juga: 7 Cara Legal Mendapatkan Uang Dengan Bitcoin

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

Zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter