7 Mitos Aset Kripto yang Terbukti Tak Benar

Posted on February 13, 2021 in Articles, Investasi, Kriptopedia
View all Articles

Media gempar dengan nilai Bitcoin yang melesat karena diborong orang terkaya di dunia, Elon Musk. Aset kripto kembali jadi perbincangan di tengah masyarakat awam. Tidak sedikit yang akhirnya tertarik dan mencari tahu keunggulannya untuk dijadikan investasi. 

Sayangnya, tak sedikit pula yang justru mengambil langkah mundur. Banyaknya isu dan mitos aset kripto yang tak terbukti benar justru mengganggu pikiran mereka. Alhasil, kesempatan untuk bisa mendapatkan keuntungan jadi menghilang begitu saja. 

Anda bisa saja jadi salah satu di antaranya. Mencari tahu kebenaran dari beragam mitos aset kripto yang beredar di masyarakat untuk menetapkan hati dan memutuskan pilihan. Kali ini, Zipmex telah merangkum tujuh mitos aset kripto yang paling sering beredar di masyarakat dan tak terbukti kebenarannya. 

Apa saja? Simak ulasannya berikut ini. 

Aset Kripto Biasanya Digunakan untuk Aktivitas Ilegal

Fakta: Hanya 0,5 persen dari transaksi Bitcoin yang ditemukan di dark web, jauh lebih sedikit ketimbang mata uang fiat. 

Menurut data United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pada 2009, pencucian uang yang terjadi di dark web mencapai 2-5 persen dari PDB global. Kebanyakan di antaranya menggunakan uang tunai. 

Dari seluruh Bitcoin, hanya 0,5 persen di antaranya yang ditemukan di dark web. Nominalnya sekitar 829 juta dolar AS atau Rp 11,5 triliun. Sementara transaksi menggunakan mata uang fiat pada tahun yang sama mencapai 2,1 triliun dolar AS. Hampir tiga kali lipat dari nominal transaksi Bitcoin. 

Dilansir Quartz, Kim Grauer, ekonom senior Chainalysis mengatakan bahwa aset kripto memang dianggap menarik bagi orang-orang jahat. Karena memiliki reputasi transaksi yang lintas batas dan juga anonim. Namun, kenyataan yang sering kali tidak disadari adalah transaksi aset kripto, terutama Bitcoin dicatat pada buku besar yang sifatnya permanen, open to public, dan tidak dapat diubah. 

Hal ini justru akan menyulitkan bagi penjahat. Sebab, tindakan pencucian uang sebenarnya dilakukan untuk menghilangkan jejak. Instansi pemerintah di Amerika bahkan kini telah mengontrak perusaahaan analitik kripto seperti CipherTrace dan Chainalysis untuk melacak tindak kejahatan yang terjadi di dunia aset kripto. 

Selain itu, seluruh platform perdagangan aset kripto di dunia diharuskan untuk mematuhi kebijakan AML (Anti Money Laundering) dan KYC (Know Your Customer). Kedua kebijakan tersebut diterapkan untuk mengetahui identitas para pengguna. Sehingga apabila terjadi perpindahan dana ilegal menuju rekening pengguna dapat lebih mudah dilacak. 

Nilai Aset Kripto Bersifat Spekulatif dan Tidak Jelas

Fakta: Perubahan nilai aset kripto tergantung pada mekanisme pasar dan teknologi yang digunakan.

Salah satu kesalahpahaman umum dan menjadi mitos aset kripto yang paling sering ditemukan adalah mengenai nilainya yang volatil. Aset kripto memiliki volatilitas tinggi. Naik turunnya nilai aset kripto sering kali dianggap terjadi tanpa alasan dan bergerak berdasarkan spekulasi. 

Padahal sebenarnya, nilai aset kripto dipengaruhi oleh teknologi yang dibangun di jaringannya serta mekanisme pasar. Bitcoin misalnya, aset kripto nomor satu tersebut memiliki jumlah yang terbatas, yaitu hanya 21 juta di dunia. Seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap Bitcoin dan penawaran yang terbatas, harganya tentu akan meningkat. 

Berbeda dengan mata uang fiat yang mengalami inflasi karena dicetak terus-menerus sesuai kebutuhan, Bitcoin justru berada dalam kondisi deflasi. Kontrol atas inflasi dan kendali pergerakan mata uang dipegang oleh Pemerintah dan Bank Sentral. Berbeda dengan Bitcoin dan aset kripto lainnya yang bersifat terdesentralisasi dan benar-benar bergantung pada mekanisme pasar. 

Teknologi pendukung juga menjadi faktor penting dalam perubahan nilai aset kripto. Semakin bagus teknologi yang digunakan, berarti tingkat keamanannya pun makin tinggi. Tingkat keamanan yang tinggi menjamin rasa percaya pengguna, sehingga harganya pun ikut naik.

Baca juga: 7 Modus Penipuan Aset Digital dan Bagaimana Cara Menghindarinya

Aset Kripto = Penipuan 

Fakta: Penipuan yang terjadi hanya mengatasnamakan, bukan berasal dari aset kripto itu sendiri

Ada banyak tindakan penipuan yang mengatasnamakan aset kripto. Kebanyakan di antaranya menggunakan skema Ponzi. Modusnya menawarkan sejumlah keuntungan dalam rentang waktu cepat dengan hasil yang besar. 

Beberapa penipuan yang paling terkenal adalah OneCoin dan Bitconnect. Kedua scam ini menawarkan hasil yang besar dengan menginvestasikan sejumlah uang. Sementara aset yang diputarkan tidak ada. 

Penipuan jenis lainnya adalah membuat ICO untuk menawarkan koin dan token baru. Lalu membawa lari seluruh uang investor dan menghilang tanpa jejak. 

Penipuan bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan berbagai modus. Satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah bersifat skeptis di awal dan melakukan riset mendetail sebelum mengambil keputusan. Pelajari aset kripto yang diinginkan dan regulasi yang mengaturnya sebelum memutuskan untuk berinvestasi. 

Pexels/AlphaTradeZone

Aset Kripto Cuma Bitcoin Saja

Fakta: Aset kripto bukan hanya Bitcoin. Ada banyak aset digital lainnya seperti Litecoin, Dogecoin, Ethereum, dan banyak lagi. 

Tidak bisa dipungkiri, Bitcoin memang menjadi ‘raja’ bagi aset kripto. Diluncurkan pada 2009, Bitcoin menjadi pelopor aset kripto di Indonesia, bahkan di dunia. Dari segi kapitalisasi pasarnya pun, Bitcoin berada di urutan wahid. Wajar saja jika popularitas Bitcoin jauh lebih tinggi dibandingkan dengan aset kripto lainnya. 

Namun, sebenarnya Bitcoin bukanlah satu-satunya aset kripto yang ada di dunia. Ada lebih dari 4 ribu aset kripto yang tersebar di dunia. Sementara yang diakui oleh Bappebti di Indonesia hanya ada 229 saja di antaranya. 

Itu berarti, sejak kemunculan Bitcoin, aset kripto berkembang dengan pesat. Sistemnya yang terdesentralisasi dan berjalan menggunakan teknologi dan layanan internet membuat aset kripto lebih mudah diciptakan. Beragam koin dan token dihadirkan untuk tujuan yang berbeda.

Ethereum misalnya. Jaringan blockchain ini menghasilkan koin Ether (ETH) yang diciptakan untuk mengatasi kekurangan pada sistem Bitcoin. Di dalam blockchain ETH, terdapat fitur smart contract yang memungkinkan software developer membangun aplikasi ketiga untuk membuat token di jaringannya. Hingga saat ini, ada lebih dari 200 ribu token yang dibangun di jaringan ETH. 

Baca juga: 5 Aset Kripto Paling Populer Selain Bitcoin

Blockchain dan Bitcoin adalah Entitas yang Sama

Fakta: Blockchain dan Bitcoin tidak sama. Keduanya merupakan entitas berbeda. 

Istilah blockchain dan Bitcoin memang kerap kali tertukar, terutama bagi masyarakat awam. Sebenarnya teknologi blockchain sudah banyak diterapkan, bahkan sebelum kehadiran aset kripto. Tetapi, teknologi tersebut memang baru mencapai popularitas ketika Bitcoin diluncurkan.

Blockchain pada dasarnya adalah sistem penyimpan catatan transaksi di beragam komputer yang berbeda namun terhubung satu sama lain melalui jaringan P2P (peer-to-peer). Jaringan itu berfungsi sebagai buku besar yang terbuka dan terdistribusi. Di dalamnya terdapat historis transaksi dari berbagai pihak.

Bitcoin merupakan aplikasi yang diciptakan dalam blockchain. Aset kripto ini dapat digunakan untuk menyimpan nilai dan melakukan transaksi jual beli. Ibarat sebuah rumah, blockchain adalah bangunannya, dan aset kripto adalah orang yang ada di dalamnya. 

Teknologi blockchain berfungsi sebagai fondasi ideal untuk membangun aset kripto. Tetapi, itu tak berarti semua aset kripto harus menggunakan blockchain. IOTA misalnya, alih-alih menggunakan blockchain, aset kripto ini menggunakan Directed Acylic Graphic (DAG). 

Pexels/Karolina Grabowska

Hanya Ada Satu Blockchain di Dunia

Fakta: Ada banyak blockchain di dunia aset kripto. Selain Bitcoin, Ethereum, Litecoin, dan XRP memiliki blockchain-nya sendiri.

Masing-masing aset kripto memiliki blockchainnya sendiri. Bitcoin, Ethereum, Litecoin, dan XRP berjalan di jaringannya sendiri, terpisah satu sama lain, dan tidak berinteraksi secara langsung. Setiap blockchain dan koin memiliki sistem, kode, dan algoritma tersendiri. 

Anda tidak bisa menggunakan sebuah aset kripto untuk membayar kebutuhan dalam bentuk aset kripto lainnya. Misalnya untuk membeli Tesla, Anda membutuhkan Bitcoin. Oleh karena itu, Anda harus membayar dengan Bitcoin, tidak boleh menggunakan Ethereum atau Dogecoin. Sebab, aset kripto tersebut berbeda satu dengan yang lainnya. 

Blockchain juga tidak hanya bisa digunakan untuk membuat dan menjalankan aset kripto saja. Teknologi blockchain bisa juga dimanfaatkan untuk kebutuhan bank, instansi pemerintah, dan beragam hal lainnya. Tiap blockchain juga memiliki kebijakannya tersendiri. Ada yang bersifat open to public dan ada pula yang terbuka hanya untuk sebagian pengguna saja.  

Koin dan Token adalah Hal yang Sama

Fakta: Koin dapat digunakan sebagai penyimpan nilai dan alat transaksi. Token mewakili nilai atau utilitas tertentu dan dapat digunakan untuk menyimpan nilai yang lebih kompleks.

Dilansir Forbes, koin dan token memang sama-sama aset kripto. Menurut Jeff Bell, CEO LegalShield, koin dan token berbeda dari segi fungsi. Koin hanya memiliki satu kegunaan, yaitu sebagai penyimpan nilai. Sementara token dapat menyimpan nilai yang lebih kompleks seperti properti, utilitas, pendapatan, dan beragam hal lainnya. 

Nilai properti yang dapat disimpan dalam token juga beragam. Bisa dalam bentuk transaksi real estate, komoditas, dan kekayaan intelektual. Token juga biasanya mengacu pada aset yang dikeluarkan oleh proyek berbasis blockchain, dan biasanya hanya bisa digunakan satu kali saja. Tidak seperti koin yang bisa digunakan berkali-kali untuk melakukan transaksi jual beli.

Baca juga: Perbedaan Koin dan Token dalam Aset Kripto

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter