5 Negara Terbaik untuk Mining Aset Kripto

Posted on February 06, 2021 in Articles, Investasi, Kriptopedia
View all Articles

Anda yang tengah berkecimpung di dunia aset kripto pastinya tidak lagi merasa asing dengan istilah mining atau penambangan. Mining menjadi salah satu alternatif menarik bagi pegiat aset kripto yang ingin mendapatkan Bitcoin tanpa mesti melakukan trading

Dengan mining, penambang bisa mendapatkan Bitcoin tanpa perlu membayar. Miner hanya perlu menyelesaikan verifikasi transaksi dari blok baru yang ditambahkan ke dalam blockchain. Untuk menyelesaikannya, miner mesti memecahkan teka-teki hashing berupa persamaan sulit yang dihasilkan oleh prosesor. 

Untuk melakukannya, miner membutuhkan listrik sebesar 1000 W. Daya tersebut dibutuhkan untuk menjaga sistem tetap menyala 24 jam dalam seminggu. Selain itu, dibutuhkan pula koneksi internet yang kuat. 

Dilansir BBC, sebuah studi yang dilakukan Universitas Cambridge pada 2019 lalu menemukan bahwa jaringan Bitcoin menghabiskan daya listrik yang sangat besar. Bahkan mencapai 7 GW atau sekitar 64 TWh dalam setahun. Jumlah tersebut setara dengan 0,21 persen pasokan listrik dunia. Sehingga dibutuhkan bahan bakar dalam jumlah yang besar pula. 

Di antara banyak tempat, setidaknya ada tujuh negara yang diklaim sebagai lokasi terbaik untuk mining aset kripto, terutama Bitcoin. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti cuaca yang dingin, energi listrik terbarukan, dan tarif listrik yang rendah. 

Berikut tujuh negara terbaik untuk mining aset kripto yang telah dirangkum Zipmex untuk Anda. Simak ulasannya di bawah ini. 

Islandia

Islandia menjadi salah satu negara favorit bagi penambang aset kripto. Tarif layanan listrik komersial yang diterapkan Islandia hanya sebesar 0,12 dolar AS per kWh atau setara dengan Rp 1.691 per kWh. Hal ini dikarenakan hampir 100 persen listrik Islandia berasal energi terbarukan. 

Pada Juni 2020, laporan dari United Nations Environment Programme (UNEP) menyatakan bahwa Islandia mengandalkan sumber listriknya dari tenaga panas bumi. Dijuluki Land of Fire and Ice, Islandia menggunakan pembangkit listrik geothermal dan hidroelektrik.

Bukan cuma itu saja, koneksi internet Islandia menempati peringkat ke-35 di dunia. Kecepatannya unduhnya mencapai 22,13 Mbps. Suhu rata-rata tahunan Islandia yang berada di kisaran 1,75℃ membuat negara ini sangat dingin. Sehingga, dapat menjaga suhu perangkat komputer tetap prima selama mining. 

Alasan lainnya yang membuat Islandia menjadi idola di antara para miner adalah regulasi pemerintahnya. Pemerintah Islandia tidak membatasi penambang aset kripto dalam menggunakan daya listrik maupun koneksi internet. Satu-satunya kekurangan di Islandia adalah jumlah tenaga kerja yang rendah karena tingkat penganggurannya hanya berkisar 3,5 persen saja.

Baca juga: Mitos atau Fakta: Mining Bitcoin Tak Ramah Lingkungan

China

China dikenal sebagai ibu kota mining aset kripto di dunia. Negara ini memegang sekitar 66 persen hash tingkat global. Perusahaan mining aset kripto terbesar di dunia juga bernaung di negara yang dijuluki sebagai Negeri Tirai Bambu itu. 

Menurut CoinShares, total pendapatan mining aset kripto di China bahkan melampaui 5 miliar dolar AS pada tahun 2020 lalu. Kawasan terbaik di China yang biasa ditempati miners aset kripto adalah Pegunungan Sichuan. Bahkan 50 persen dari seluruh hash yang dihasilkan di China berasal dari Sichuan.

Wilayah pegunungan ini memiliki suhu yang sejuk sepanjang tahun. Tarif listrik yang mesti dikeluarkan pun murah, berkisar antara 0,05 – 0,08 dolar AS per kWh atau setara dengan Rp 700-1.123 per kWh. Hal ini disebabkan karena listrik yang digunakan miner berasal dari pembangkit listrik hidroelektrik berskala kecil. 

Ya, China memang tengah mengembangkan pembangkit listrik terbarukan untuk menunjang aktivitas penambangan. Sebab, menurut para ahli, tingkat listrik yang dihasilkan oleh batu bara akan mulai menurun sebanyak 30 persen pada 2050 mendatang. 

Sayangnya, kabar terkini dari Finance Magnates melaporkan bahwa penambang China nampaknya akan pindah dari Negeri Tirai Bambu. Kemungkinan miners akan berpindah ke negara-negara Nordik. Keputusan tersebut didasari regulasi Pemerintah Tiongkok yang dianggap tak lagi ramah bagi aset kripto dan mining.  

digital assetscurrency mining rig using graphic cards to mine for digital digital assets such as bitcoin, ethereum and other altcoins.

Kuwait

Berlokasi di Timur Tengah, Kuwait dikenal sebagai negara dengan tarif listrik yang rendah. Hanya sekitar 0,029 dolar AS atau sekitar Rp 407 per kWh. Hal ini tentu tak mengejutkan mengingat Kuwait sendiri merupakan ‘rumah’ bagi delapan persen pasokan minyak dunia. 

Pendapatan rata-rata masyarakat di Kuwait relatif tinggi berkat kekayaan minyak bumi. Selain itu, kemudahan bisnis di Kuwait juga membuat biaya hidup negara di Teluk Persia itu terhitung relatif terjangkau bagi miner

Kecepatan koneksi internet di Kuwait juga tak perlu diragukan. Berada satu peringkat di atas Islandia, kecepatan internet Kuwait menempati ranking 34 di dunia dengan kecepatan unduh hingga 110,33 Mbps. 

Dari segi kekurangan, Kuwait memiliki suhu udara yang cenderung panas sepanjang tahun. Pada musim panas, suhu udara Kuwait berkisar antara 29-46℃. Di musim semi, suhu udara Kuwat berkisar antara 33-40℃. Untuk menjaga perangkat komputer tetap prima, dibutuhkan pendingin udara dengan daya listrik yang besar. 

Kekurangan lainnya dari Kuwait adalah belum adanya regulasi yang mengatur aset kripto. Kementerian Keuangan tidak mengakui aset kripto sebagai alat transaksi komersial. Sementara itu, Bank Sentral Kuwait juga melarang transaksi dan perdagangan aset kripto. Umumnya, aset kripto yang dihasilkan dari Kuwait akan dijual pada pembeli dari negara lain, bukan penduduk domestik. 

Swiss

Dilansir Global Legal Insights, Pemerintah Swiss tidak memiliki aturan khusus mengenai aset kripto dan penambangannya. Aset kripto dianggap sebagai properti. Aktivitas terkait aset kripto dianggap legal asalkan tidak melawan hukum atau regulasi yang ada, seperti pencucian uang. 

Dari segi biaya, listrik di Swiss dibanderol dengan harga 0,21 dolar AS per kWh atau setara dengan Rp 2.948 per kWh. Secara global, koneksi internet Swiss menempati urutan keempat dengan kecepatan unduh mencapai 186,4 Mbps. Sehingga memiliki sumber daya mumpuni sesuai dengan kebutuhan miner. 

Sementara itu, dari segi cuaca, Swiss unggul karena memiliki suhu rata-rata tahunan yang berkisar 5.50℃. Sehingga miner tidak perlu khawatir perangkat kerjanya meledak karena kepanasan akibat bekerja terlalu lama. 

Latvia

Latvia bukan hanya menjadi destinasi liburan populer saja bagi wisatawan, tapi juga tujuan favorit bagi miner aset kripto. Negeri indah di kawasan timur laut Eropa ini dikenal memiliki fasilitas yang mumpuni dan memadai dalam penambangan aset kripto. 

Dari segi koneksi internet, Latvia menawarkan kecepatan unduh setinggi 115,22 Mbps. Tarif listriknya pun terhitung rendah, hanya sekitar 0,18 dolar AS saja per kWh atau sekitar Rp 2.528 per kWh. Suhu rata-rata tahunannya pun cenderung dingin, yakni berkisar 5,65℃. Sangat membantu menjaga suhu perangkat komputer tetap dingin meski bekerja 24 jam per minggu. 

Terakhir yang tak kalah penting, Pemerintah Latvia mengakui Bitcoin sebagai alat transaksi yang sah. Anda bisa menggunakan Bitcoin untuk membeli apartemen, mobil mewah, membangun rumah, dan bahkan untuk transaksi kecil seperti membeli tiket pesawat. Menarik sekali, kan. 

Baca juga: 7 Hal Aneh yang Bisa Anda Beli dengan Bitcoin

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter