3 Penipuan Berkedok Aset Kripto Paling Terkenal

Posted on February 20, 2021 in Articles, Kriptopedia
View all Articles

Hadirnya aset kripto sebagai bentuk alternatif dari investasi nyatanya tidak terlepas dari beragam bentuk penipuan. Seiring meningkatnya popularitas aset kripto, meningkat pula jumlah penipuan berkedok serupa yang tersebar di berbagai negara. 

Penipuan seakan menjadi hal yang umum di dunia aset kripto. Selain memberikan kerugian bagi pengguna, penipuan berkedok aset kripto ini dapat memberikan gambaran negatif pada industri perdagangan aset kripto.

OneCoin

Penipuan berkedok aset kripto ini menggunakan skema ponzi. Ialah OneCoin, aset yang digadang-gadang mampu menyaingi kemasyuran Bitcoin ini  yang berhasil menipu investor dari berbagai negara di seluruh dunia. Tidak tanggung-tanggung, ia menipu lebih dari 70 ribu investor yang tersebar di seluruh dunia.

Ruja Ignatova, pebisnis asal Bulgaria yang menciptakan aset palsu tersebut. OneCoin pertama kali muncul di permukaan pada 2014 lalu. Tidak ada yang tahu pasti, kapan aset kripto ini diluncurkan, namun OneCoin berhasil meraup keuntungan sebesar 4 miliar Euro atau setara dengan 62 triliun rupiah.

Baca juga: Cryptoqueen, Penipu Aset Kripto Nomor Satu di Dunia

PlusToken

Sama seperti yang lainnya, PlusToken juga merupakan skema ponzi yang menyamar sebagai program investasi hasil tinggi. Perusahaan yang berbasis di China ini memperkenalkan dirinya sebagai crypto wallet yang dapat memberi reward kepada pengguna. 

Selain itu, apabila pengguna membeli token PLUS yang mereka keluarkan dengan menggunakan Bitcoin atau Ethereum, mereka akan mendapat imbal hasil bulanan yang tinggi sebesar 9-18 persen. Pemilik PlusToken mengklaim pengembalian tersebut akan dihasilkan oleh profit dari exchange, pendapatan mining, dan referral benefit.

PlusToken memiliki banyak pengikut di Korea dan Cina, terutama pada investor yang tidak terbiasa dengan perdagangan aset kripto. Penipuan tersebut kian populer setelah mengandalkan konferensi dan pertemuan untuk mempromosikan token. 

Penipuan berkedok aset kripto itu menggunakan ilusi bisnis yang berpura-pura bahwa dana yang disetorkan oleh investor digunakan untuk mengembangkan produk aset kripto. Misalnya seperti wallet dan exchange token PLUS. Namun nyatanya, keuntungan dihasilkan dengan membagi investasi yang lebih baru untuk membayar anggota yang sudah terlebih dahulu mendaftar.

Pada 30 Juni 2019, PlusToken mendadak menunda pembayaran tanpa sebab. Pengguna mulai melaporkan penundaan penarikan dana, bahkan beberapa mengajukan keluhan mereka melalui situs media sosial China, Weibo. 

PlusToken beralasan mereka sedang tidak dapat menerima dana. Kendati mereka telah melaporkan permasalahan tersebut selama 35 jam setelah mengirimkan permintaan penarikan. Namun Ring Leader mencoba meyakinkan komunitas bahwa TokenPlus akan kembali.

Di hari yang sama, penegak hukum berhasil menangkap 6 tersangka yang terlibat dengan PlusToken di Vanatu. Mereka ditahan dan diekstradisi kembali ke China untuk diadili.

ilustrasi penipuan berkedok aset kripto
Pexels/Tina Miroshnichenko

CentraTech

Penipuan berkedok aset kripto lainnya adalah CentraTech. Perusahaan yang didirikan di Miami, Amerika Serikat ini bahkan telah melakukan kerjasama dengan selebriti papan atas salah satunya DJ Khaled. Namun, seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Perusahaan tersebut kemudian dianggap sebagai scam di pengadilan New York, Amerika Serikat. 

Robert Joseph Farkas, yang juga dikenal sebagai “RJ,” pendiri perusahaan aset kripto CentraTech dituduh bersekongkol untuk melakukan penipuan berkedok aset kripto. Pengadilan memutuskan ia mesti mendapat hukuman antara 70 hingga 87 bulan serta denda hingga 250 ribu dolar AS. Dalam kesaksiannya, RJ mengaku bersalah karena berkonspirasi untuk melakukan pemaksaan sekuritas dan penipuan investasi. 

Farkas meluncurkan CentraTech bersama dengan dua pendiri lainnya, Sohrab Sharma dan Raymond Trapani. Setelah diselidiki, ternyata tidak ada pendiri yang memiliki pengalaman mengenai perdagangan aset kripto. Selain itu, para pendiri ini membuat identitas palsu mengenai CEO perusahaan ini yang bernama Michael Edwards. 

Mereka mengklaim bahwa Edwards merupakan alumni dari Universitas Harvard yang memiliki gelar master dalam administrasi bisnis. ‘CEO’ palsu itu bahkan diklaim telah memiliki  pengalaman di industri perbankan selama lebih dari 20 tahun.

Dalam melakukan aksinya, CentraTech menyatakan akan meluncurkan Centra Card. Centra Card diklaim dapat digunakan untuk transaksi aset kripto pada semua merchant yang menerima kartu pembayaran Visa atau Mastercard. Namun, belakangan diketahui bahwa mereka tidak pernah membentuk kemitraan atau lisensi dengan salah satu dari dua perusahaan pembayaran tersebut.

Bagaimana Cara Menghindari Skema Ponzi?

Untuk menghindarkan diri Anda dari beragam bentuk penipuan bermodus aset kripto, salah satunya yang berskema Ponzi, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan. 

Mulailah dengan mencari tahu lebih dalam mengenai aset yang hendak digunakan untuk investasi. Penting bagi Anda untuk mengetahui siapa yang akan memegang dana Anda, mengapa Anda mesti mempercayainya. Kemudian, pahami investasi yang ditawarkan sebelum Anda memutuskan untuk menyerahkan aset dan uang yang dimiliki. 

Berhati-hatilah apabila ada seseorang yang menghubungi Anda tanpa diminta untuk menjelaskan dan menawarkan bentuk investasi baru. Jika ada keanehan atau tindak-tanduk mencurigakan, segera cari tahu legalitas investasi tersebut sebelum terlambat.

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter