Skip to content

6 cara aset digital dapat memperkuat ekonomi Asia Tenggara 

6 cara aset digital dapat memperkuat ekonomi Asia Tenggara 

10 June 2020 zipmexteam Opinions ID

Hal yang paling dirasakan dengan adanya digitalisasi adalah lahirnya ekonomi digital yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Setiap negara mempunyai tantangannya masing-masing dalam memasuki era ekonomi digital dan melakukan langkah-langkah strategis untuk mencapai transformasi di sektor teknologi tersebut. Dan transformasi teknologi dalam hal ini adalah teknologi disruptif. 

Sebagai informasi, istilah ekonomi digital (digital economy) dikenalkan oleh Don Tapscott di tahun 1995 lewat bukunya berjudul “The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence”.

Ekonomi digital adalah kegiatan ekonomi yang didasarkan pada teknologi digital internet. Ekonomi digital disebut juga dengan sebutan internet economy, web economy, digital-based economy, new economy knowledge, atau new economy. Berdasarkan hasil riset McKinsey Global Institute yang dirilis pada November 2014, teknologi disruptif (disruptive technology) berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi digital, serta mampu merubah kondisi sosial di kawasan Asia Tenggara.

Saat ini sepuluh negara di Asia Tenggara telah merangkul ekonomi digital baik dari sektor swasta maupun publik.

Sebagai contoh, Singapura saat ini dianggap sebagai pusat keuangan dengan mayoritas orang yang tinggal di kota, sementara Kamboja atau Myanmar masih dalam tahap pengembangan infrastruktur. Dan kurang dari 50% populasi mereka yang tinggal di daerah perkotaan. 

Jadi, terlepas dari perbedaan infrastruktur yang ada ataupun hal yang lainnya, Asia Tenggara saat ini telah memiliki 350 juta pengguna internet – lebih dari seluruh populasi Amerika yang berkisar 328 juta orang tahun 2020 ini. 

Bahkan ke depannya tidak diragukan lagi, ekonomi digital akan terus meningkat. Google baru-baru ini melaporkan bahwa ekonomi internet di Asia Tenggara akan mencapai 240 miliar USD pada tahun 2025.

Dengan pola ekonomi yang berubah dan kesiapan tatanan ekonomi digital, saya percaya Asia Tenggara dapat memanfaatkan aset digital dalam berbagai cara. 

Berikut ini adalah enam contoh dimana aset digital dapat membantu memberdayakan ekonomi Asia Tenggara.

1. Mendorong kolaborasi antara sektor publik dan swasta


Regulasi seringkali dilihat sebagai penghalang untuk berkembangnya aset digital di  Asia Tenggara. Mungkin juga benar bahwa pemerintah dan sektor publik biasanya lebih lambat dalam mengadopsi teknologi baru, contohnya seperti aset digital. Tetapi perubahan akan hal baru tidak dapat dihindari. Setiap pemerintah tahu bahwa ekonomi digital adalah masa depan bagi perekonomian global; dengan demikian pergerakan aset digital dapat memicu kolaborasi antara sektor publik dan swasta yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Untuk itu, sektor swasta membutuhkan dukungan pemerintah untuk membuka investasi dan membangun infrastruktur, dan sebaliknya pemerintah membutuhkan keahlian dari sektor swasta. Kolaborasi semacam ini tidak bisa dihindari dan selanjutnya hal ini dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi digital ke depan.

Sebagai contoh, Thailand telah mengambil inisiatif untuk memulai kerja sama antara pemerintah dengan delapan bank untuk menguji aset digital yang dikeluarkan oleh bank sentralnya, yaitu koin Intanon. Koin Intanon adalah bukti dari konsep bahwa token digital pemerintah dapat digunakan untuk memfasilitasi transaksi di sektor swasta.

2. Keterampilan tenaga kerja dan peningkatan pendidikan

Aset digital telah terbukti menjadi pintu gerbang menuju skala penuh perekonomian digital. Hal itu terjadi akibat dampak dari teknologi yang telah mentransformasi hampir di semua sektor. Meskipun aset digital sendiri mungkin belum memiliki dampak besar pada ekonomi, tetapi telah memainkan peran yang penting dalam menunjukkan kepada orang-orang dan pemerintah bagaimana masa depan akan terlihat. 

Saya pikir dengan hadirnya aset digital akan mengubah cara berpikir dan juga keterampilan yang dibutuhkan, yang pada akhirnya akan menghasilkan perubahan dalam sistem pendidikan secara global. Reskilling dan upskilling diperlukan karena digitalisasi ekonomi membutuhkan skill set yang berbeda dengan ekonomi sebelumnya. Generasi milenial perlu pemahaman atau literasi yang baru terhadap dunia digital.

Pengetahuan dan keterampilan saat ini sedang dikembangkan dengan cara yang baru dan berbeda untuk mengikuti perkembangan ekonomi digital di seluruh dunia.

3. Menggantikan sistem perbankan bagi yang belum dijangkau bank

Layanan keuangan digital bagi yang belum punya akses perbankan 


Menurut laporan Bank Dunia baru-baru ini, setengah dari populasi di Asia Tenggara tidak memiliki rekening bank, dengan hanya 4% orang yang memiliki kartu kredit. Aset digital memungkinkan orang untuk mengejar ketertinggalan tersebut dengan memasuki ekonomi digital, yang disebut dengan “wajah baru perekonomian”. 

Dalam ekonomi digital, orang-orang dapat memiliki fasilitas kredit, mendapatkan pinjaman, dan berbelanja online tanpa memerlukan rekening bank atau kartu kredit. 

Sebagai contoh, dengan infrastruktur yang memadai, kehadiran fintech pembayaran dan e money bisa menjadi andalan untuk merangkul para unbanked, mereka yang selama ini belum mendapat akses perbankan. Di Indonesia, pertumbuhan e-money dan fintech pembayaran atau pembayaran online mencapai angka 436% di tahun 2018 sejak beberapa tahun terakhir. Pembayaran online seperti OVO dan Go-Pay mulai menggeser posisi perbankan swasta.

Aset digital inilah yang memastikan tidak ada yang tertinggal ketika kita bergerak begitu cepat ke dunia digital, dalam hal ini yaitu ekonomi digital. Kemudahan orang-orang dalam mengakses pembayaran digital juga bisa diartikan sebagai berkembangnya ukuran ekonomi digital menjadi lebih besar dari sebelumnya.

4. Tingkatkan perputaran uang

Selama ini negara-negara telah menghasilkan banyak uang yang dipakai untuk menyelesaikan krisis ekonomi. Mereka melakukannya dengan menyuntikkan uang tersebut ke dalam sistem perekonomian mereka untuk waktu yang lama. Dan setelah beberapa saat, kenaikan jumlah uang yang beredar tidak banyak membantu Produk Domestik Bruto (PDB), karena tingkat kecepatan perputaran uang yang rendah. Tingkat perputaran uang yang rendah berarti uang tidak beredar dengan cepat karena konsumsi yang rendah disebabkan banyak orang yang tidak menggunakan uangnya untuk berbelanja. 

Di Indonesia, kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun 2017 mencapai angka 7,3 persen. Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri berada pada angka 5,1 persen. Bahkan, melihat perkembangan ekonomi digital Indonesia yang luar biasa, World Market Monitor memproyeksikan ekonomi digital akan menyumbang USD 155 miliar atau 9,5 persen terhadap (PDB) Indonesia pada tahun 2025.

Baru baru ini China telah meluncurkan Digital Yuan yang akan berfungsi sebagai token stabil di negara itu. Upaya China untuk menjadi pemimpin dalam transformasi digital tidaklah mengejutkan. Orang-orang di China sudah lama tidak memakai akun bank dan kartu kredit dan telah beralih ke teknologi, yaitu menggunakan ponsel dalam bertransaksi. Diperkirakan sekitar 80% pengguna ponsel pintar China menggunakan pembayaran seluler melalui layanan seperti Alipay dan WeChat Pay. Dengan memiliki mata uang digital tidak hanya memudahkan uang untuk beredar dalam sistem perekonomian, tetapi saya percaya ini juga dapat membantu mengatur pasar surat utang di Asia Tenggara secara lebih efektif. Aset digital akan memudahkan orang membelanjakan uang, yang pada akhirnya saya yakini dapat meningkatkan kecepatan perputaran mata uang juga.

5. Tingkatkan kesejahteraan terutama untuk generasi milenial

Dengan setengah dari populasi Asia Tenggara yang berada di usia milenial, mereka merupakan generasi pertama yang merasakan inovasi dari teknologi disruptif ini. Generasi milenial tumbuh dengan transformasi digital, dan mereka percaya bahwa inilah teknologi masa depan. 

Sebagai generasi pertama yang tumbuh dengan teknologi digital di tangan mereka, generasi milenial memiliki default cara berpikir yang berbeda. Teknologi menjadi sarana penunjang paling utama yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-harinya. Dari memesan tiket perjalanan, bermain saham, hingga memesan taksi semua dilakukan secara online. Kondisi inilah yang memudahkan kalangan milenial untuk mengenal aset digital. 

Penelitian yang menarik menunjukkan bahwa 43% dari trader online generasi milenial lebih percaya pada aset digital daripada pasar saham. 71% responden survei mengatakan mereka akan memperjualbelikan aset digital jika ada lembaga keuangan umum yang menawarkannya. 

Saya pikir kita akan melihat pola yang muncul di mana generasi milenial yang paham teknologi dengan kemampuan investasi yang kuat lebih bersedia untuk berinvestasi dalam aset digital. Aset digital menyediakan cara serta metode yang lebih terbuka bagi generasi milenial untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, yang saya percaya pada gilirannya akan menghasilkan ekonomi yang lebih baik bagi negara.

6. Berdayakan Usaha Kecil Menengah

Sudah menjadi pandangan umum bahwa kekayaan hanya terbatas pada orang-orang tertentu yang sudah memilikinya. Hambatan selalu muncul bagi orang-orang dengan sumber daya yang lebih sedikit. Dan dalam usaha mereka mengumpulkan dana atau memasuki pasar yang baru, usaha kecil dan menengah selalu menghadapi hambatan yang lebih besar daripada yang dirasakan oleh perusahaan-perusahaan besar. 

Suatu solusi dapat dihadirkan oleh aset digital yaitu dengan memungkinkan siapa saja untuk bertransaksi secara digital. Opsi dengan pembayaran online adalah salah satunya. Cara ini mencairkan hambatan antara Usaha Kecil Menengah dan pasar potensial di mana pun di dunia. 

Kehadiran aset digital bertujuan untuk mendorong kesuksesan dan membantu menyediakan kesempatan bagi pengusaha dari semua kalangan untuk memiliki peluang yang sama seperti pemain besar lainnya.

Saya tidak begitu percaya bahwa kehadiran aset digital dapat menjadi kunci untuk menyelesaikan semua masalah di Asia Tenggara, namun di sisi lain aset digital telah memberdayakan ekonomi dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh teknologi lain. 

Saya pikir dengan memberikan kesempatan bagi setiap orang, di mana saja, untuk menggunakan aset digital adalah awal untuk memasuki ekonomi digital yang baru. Mereka juga memainkan peran yang penting dalam membentuk masa depan yang membuat semua orang semakin bersemangat.

Dari pengamatan saya, sebagian besar negara di Asia Tenggara sudah siap dalam mengadopsi aset digital, dan yang menarik adalah, beberapa negara telah mengambil inisiatif untuk mengeksplorasi teknologi baru ini. Sekarang anda sudah bisa berjual beli aset digital secara legal di negara-negara seperti Singapura, Thailand, dan Indonesia. Pasar menjadi semakin besar, dan tampaknya gelombang transformasi digital tidak dapat dihindari lagi. Setiap negara mau tidak mau harus ikut dalam arus transformasi ini. Dan hal itu sedang terjadi sekarang ini. 

( *tulisan ini dikutip dari berbagai sumber )